Lhob Mate Corona (24): Pandemi 100 dan Respons Kreatif Sumbar, Sulawesi Selatan (I)

Ahmad Humam Hamid. [Ist]

Ahmad Humam Hamid*

Minggu malam 12 Juli Gugus Covid-19 Aceh mengumumkan Serambi Mekkah sudah melampau 100 kasus pertama Covid-19. Itu artinya Aceh perlu waktu 111 hari semenjak kasus pertama diumumkan pada tanggal 23 Maret 2020 untuk mencapai angka seratus. Sebagai perbandingan, untuk daerah luar, Jawa Sumatera Barat mencapai pasien positif ke 100 dalam tempo satu bulan saja, Bali 35 hari, Sulawesi Selatan 31 hari, dan Sumatera Utara hanya dalam tempo 26 hari. Provinsi wilayah tengah dan timur Indonesia masing- masing Sulawesi Selatan dan Papua mendapatkan 100 pasien pertama juga dalam waktu relatif pendek, sebulan atau kurang sedikit.

Sebagai perbandingan regional, sejumlah provinsi dalam kawasan ASEAN, di Yala -Thailand butuh 100 hari lebih semenjak kasus pertama, Provinsi Marawi Mindano Filipina, 79 hari, dan negara bahagian Kelantan, Malaysia mendapatkan angka pasien positif 100 plus hanya kurang dari sebulan. Kedua provinsi, dan satu negara bagian di kawasan ASEAN yang diambil sebagai perbandingan adalah kawasan yang penduduknya mayoritas beragama Islam, dan relatif mempunyai kehidupan dan praktik keagamaan yang relatif sama dengan Aceh. Perkembangan Covid 19 di ketiga wilayah itu sampai dengan saat ini relatif sama dengan Aceh, baru saja melalui angka pasien positif Covid ke 100.

Yang dimaksud dengan pandemi 100 dalam artikel ini adalah mengambil angka seratus kasus positif pertama Covid-19. Hal ini perlu dilakukan sebagai patokan, karena angka ini paling kurang memberikan gambaran tentang kemungkinan proyeksi skenario perjalanan Covid-19 di Aceh di bulan-bulan yang akan datang. Sengaja yang diambil adalah provinsi-provinsi di luar Jawa dan provinsi atau negara bagan tertentu di sejumlah negara ASEAN, supaya konteksnya relatif sama, walaupun tidak sangat serupa. Semenjak tercapainya kasus pasien positif ke 100 atau 100 plus keadaan terakhir jumlah pasien positif Corona di Sumatera Barat per 12 Juli 2020 adalah 800 kasus, Bali 2.195 kasus, Kalimantan Selatan 4.146 kasus dan Sumatera Utara 2,323 kasus. Sementara itu di Papua jumlah kasus positif Covid-19 adalah 2.267, dan Sulawesi Selatan 6.973 kasus.

Angka seratus pertama ini perlu sekali untuk dicatat, karena kelipatan 100 kemudian, biasanya dicapai lebih pendek dari waktu sebelumnya, dan kelipatan itu semakin cepat dengan asumsi tidak ada tindakan pencegahan dan pengendalian yang dilakukan. Dalam konteks nasional pertambahan angka lebih kurang 1.000 kasus perhari itu juga pada awalnya dimulai dengan jumlah hari yang banyak, terus bertambah, untuk kemudian menjadikan jumlah seribuan perhari secara berlanjut.

Angka rendahnya Covid-19 di Aceh dapat juga dihubungkan dengan rendahnya test yang dilakukan. Sampai hari ini belum ada angka resmi test di Aceh yang telah dilakukan, kecuali yang telah dilaksanakan oleh Pemda dan Universitas Syiah Kuala sekitar 5.000 test atau lebih. Pernah disebutkan pada pertengahan Juni lalu, akan ada 25.000 test akan dilaksanakan, tetapi sampai hari ini sepertinya belum dilaksanakan.

Tingginya angka positif di beberapa provinsi di Indonesia umumya terkait dengan kosentrasi jumlah test yang sampai dengan tanggal 8 Juli 2020 telah berjumlah 968.237 kasus. Jumlah rasio test tertinggi berada di lima propinsi, yakni DKI Jakarta 26.527 per satu juta penduduk, Sumatera Barat dengan jumlah 9.124 per sejuta penduduk, Bali sebanyak 8.870 per satu juta penduduk, Sulawesi Selatan yakni 6.288 tes tiap satu juta penduduk dan Papua 5.440 tiap satu juta orang. Kelima provinsi menempati ranking tertinggi di antara 34 provinsi lainya, bahkan melebihi rasio tes nasional 3.394 per sejuta penduduk.

Dengan kata lain pencapaian jumlah kasus positif yang jauh lebih cepat oleh provinsi-provinsi lain di luar Aceh, diperoleh dengan pengalian dan pencarian Covid-19 di lapangan dengan melakukan tes di berbagai lokasi kabupaten kota. Tidak seperti di sejumlah provinsi yang menunggu angka pasien positif dari rumah Sakit, pencapaian angka 100 pertama di Sumatera Barat, Bali, Sulawesi Selatan, dan Papua didapatkan melalui tes yang massif yang mencapai puluhan ribu spesimen dari masyarakat. Pekerjaan itu tentu saja memberikan umpan balik terhadap gambaran keadaan yang mendekati sesungguhnya yang dapat dijadikan sebagai pegangan dalam manjemen pandemi itu.

Sulit menjelaskan perbedaan nyata antara sejumlah provinsi yang merespons baik dan kurang baik terhadap tes Covid-19, bahkan di daerah maju seperti di di Pulau Jawa sekalipun, kecuali DKI. Apa yang terjadi di Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, dan Bali sekali lagi menunjukkan keunikan mereka yang dalam segala bidang selalu mempunyai “respons kreatif” terhadap berbagai masalah dan tantangan nasional semenjak masa Orde Baru. Hasilnya, mereka selalu menjadi sederajat, kadang-kadang lebih, dan jarang di bawah provinsi- provinsi maju di Pulau Jawa.

Respons kreatif Sumatera Barat dimulai oleh Gubernur Iwan Prayitno dengan menyatakan empat kata kunci strategi pemerintah daerah yang didapatkan bukan dari pikiran genius, tetapi dari manual WHO; pengujian (testing), pelacakan (tracking), isolasi (isolation) dan perawatan (treatment) yang dilakukan secara masif. Ketika banyak provinsi lain hanyut dengan lhob mate-lockdown dan kampanye serta edukasi publik tentang protokol Covid-19, Sumatera Barat tidak berhenti di situ. Provinsi ini bergegas melakukan testing, perlahan pada awalnya untuk kemudian menjadi sangat terstruktur, terorganisir, dan dengan skala yang semakin membesar.

Keputusan hanya mengandalkan tes SWAB gratis menempatkan Sumatera Barat sebagai penerobos pertama di Indonesia yang tidak main-main dengan pengujian, dengan menggandeng Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Tidak ada penjelasan tentang peran UPTD Laboratorium Kesehatan Provinsi Sumatera Barat pada tahap awal, kecuali keterangan pemda pada pertengahan bulan Juni lalu, bahwa Pemda Sumbar sedang mempertimbangkan penguatan UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah untuk menyangga peran Laboratorium Fakultas Kedokteran Andalas di bulan-bulan yang akan datang.

Hasilnya tidak main-main memang, Sumatera Barat dengan APBD 2020 sekitar 7.3 triliun telah melakukan tes SWAB kepada rakyatnya, yang sampai dengan tanggal 11 Juli sejumlah 55.000 tes dari kurang lebih 5 juta rakyat Sumatera Barat. Uniknya, ada pembagian pekerjaan yang sangat serasi antara Pemerintah Daerah Sumbar dengan Universitas Andalas. Pihak kampus menyediakan laboratorium dan sumberdaya manusia, pemerintah menyediakan penambahan fasilitas dan penyertaan anggaran untuk test. Irwan Prayitno sedikitpun tidak ragu kalau kebijakannya tentang penanganan Covid-19 akan membuat APBD Sumbar tahun 2020 Sumatera Barat menjadi defisit, karena barangkali prinsip yang dianutnya sama dengan presiden Ghana di benua Afrika, bahwa infrastruktur jalan, gedung dan berbagai item pembangunan lainnya, dapat “diesokkan” atau “ditahun depankan”, akan tetapi orang mati akibat pandemi tidak bisa dihidupkan kembali.

Kepercayaan dan kerjasama yang kuat antara pemerintah Daerah Sumbar dan Universitas Andalas juga telah memberi peluang kepada akademisi kampus untuk berkreasi dan berkontrontribusi secara sangat optimal. Adalah Dokter Andani Eka Putra, Kepala Labor Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas yang menjadi penterjemah dan motor dari empat strategi Gubernur Iwan Prayitno. dan kini ia sendiri telah menjelma menjadi pahlawan penanganan Covid-19 di Sumatera Barat. Dialah yang meyakinkan Gubernur Sumbar untuk menggunakan test SWAB sebagai cara yang paling ampuh dibandingkan dengan penggunaan rapid test.

Aplikasi tes SWAB pula telah memungkin pula petugas melakukan pelacakan dan penelusuran rantai penularan secara dini yang kemudian memudahkan dilaksanakannya tindakan karantina. Kegiatan penelusuran dan pelacakan mandiri ini diumumkan dan diberitakan dari berbagai harian cetak dan online di seluruh Sumatera Barat, dan tanpa disadari hal itu telah menjadi ajang edukasi publik yang luar biasa untuk masyarakat Sumatera Barat.

(Bersambung)

*)Penulis adalah Sosiolog.