Diduga Bersekongkol dengan Oknum Karyawan BRI, Anggota DPRK Abdya Dilaporkan ke Polda Aceh

Konferensi pers di Kantor YARA Aceh di Banda Aceh, Selasa, 14 Juli 2020. @aceHTrend/Taufan Mustafa

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Anggota DPRK Aceh Barat Daya berinisial AS dilaporkan ke Mapolda Aceh terkait kasus dugaan penipuan yang dilakukan oleh oknum karyawan BRI berinisial RS yang diduga melibatkan legislator tersebut. Laporan dilakukan oleh korban bernama Zahraini (57), warga Kecamatan Blangpidie, Aceh Barat Daya, Selasa (14/7/2020).

AS diduga terlibat persekongkolan dengan RS tersangka dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan uang nasabah BRI yang berkantor di Blangpidie. RS kini sudah ditahan Polres Abdya.

Baca: Polisi Amankan Oknum Karyawan BRI Cabang Blangpdie yang Diduga Gelapkan Uang Nasabah

Zahraini didampingi kuasa hukum dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Abdya, membuat laporan pengaduan ke SPKT Polda Aceh dengan nomor STTLP/195/VII/YAN 2.5/2020 SPKT, Selasa, 14 Juli 2020. Setelah membuat laporan, Zahraini langsung dimintai keterangan atau berita acara pemeriksaan (BAP).

Dalam konferensi pers di Kantor YARA Aceh di Banda Aceh, Tim Kuasa Hukum Erisman SH bersama Khairul Azmi SH, yang turut didampingi putri Zahraini berinisial P, Erisman mengatakan, pihaknya telah melaporkan seorang anggota DPRK Abdya berinisial AS ke Polda Aceh.

“Oknum anggota DPRK Abdya ini kita laporkan dengan alat bukti yang ada sama klien kita, bahwa oknum tersebut saat proses penyerahan uang ini, turut sama-sama meyakinkan korban, artinya uang yang dikirimkan korban kepada tersangka V, melalui si oknum anggota DPRK tersebut,” katanya.

Menurutnya, bukti struk pengiriman juga masih ada pada korban, uang tersebut dikirim ke rekening terlapor sebanyak dua kali, dengan total kerugian mencapai 300 juta rupiah.

“Rentetan pengiriman uang itu per tanggal 26 Februari 2020, itu langsung disetor ke rekeningnya oknum terlapor tersebut, itu sebesar Rp110 juta, setelah uang tersebut masuk ke rekening AS, AS kembali mengonfirmasi ke V bahwa uang itu telah dikirimkan oleh korban,” katanya.

Yang terakhir, sambungnya, untuk kedua kalinya korban kembali mengirimkan uang senilai Rp190 juta ke rekeneing terlapor, sehingga kerugian totalnya Rp300 juta rupiah.

“Saat klien kita menanyakan melalui chating WhatsApp terkait uang tersebut, AS menjawab uang tersebut sudah dikirimkan ke rekening penampungan,” kata Erisman.

Namun, kliennya tidak tahu ke rekening penampungan yang mana. Uang tersebut juga sudah dikonfirmasikan ke tersangka V bahwa uang itu juga sudah masuk ke rekening penampungan.

Erisman menambahkan, YARA hanya menindaklanjuti aduan korban, dalam hal ini sudah dibuat dua laporan polisi untuk dua aduan korban dan memberikan kuasa kepada YARA Abdya untuk ditindaklanjuti.

Dari beberapa klien yang ditangani YARA, termasuk dua aduan yang diterima, yang pertama tidak diiming-imingi apa pun. Tersangka V hanya sebagai sales promotion di BRI Cabang Blangpidie. Korban lain ada yang ditawarkan program tertentu.

“Pastinya modus yang dipakai itu mengatasnamakan bank, kemudian juga menawarkan seakan-akan program dari bank. Dan tidak tertutup kemungkinan juga ada korban yang sudah mendapat reward (keuntungan),” katanya.

Hingga saat ini YARA Abdya telah menerima enam laporan korban, tapi yang memberi kuasa hanya dua korban.

Sementara itu, putri Zahriani berinisial P mengatakan, ia bersama keluarganya sangat berharap dana mereka dikembalikan oleh terlapor, karena uang tersebut sisa kas terakhir dari simpanan ibunya.

“Ya mudah-mudahan uangnya bisa dikembalikan, karena mamak sudah pensiunan, sehingga tidak lagi ada pemasukan, sehingga kita berharap dikembalikan,” katanya.

Ia menceritakan saat AS meyakinkan ibunya, bahwa uangnya telah disetor ke rekening penampungan.

“Karena sudah diyakinkan dengan membawa nama kantor kerja, sudah minta tolong, akhirnya mamak transfer. Mamak yakin juga karena pernah satu kantor kerja,” katanya.

Terkait hal ini, oknum anggota dewan tersebut sudah berkali-kali mencoba menghubunginya melalui telepon seluler tetapi tidak diangkat.[]

Laporan Masrizan Mizani dan Taufan Mustafa

Editor : Ihan Nurdin