Lhob Mate Corona (25): Pandemi 100 dan Respons Kreatif Sumbar dan Sulawesi Selatan (II)

Ahmad Humam Hamid. [Ist]

Oleh Ahmad Humam Hamid*

Setiap kasus tracking yang didapatkan di Sumatra Barat selalu diumumkan dan dijadikan modal baru untuk membuat publik sadar dan hati-hati dengan Covid-19. Ini menyangkut dengan kejujuran informasi pemerintah yang sangat penting dalam strategi membendung Covid-19. Hal yang seperti inilah yang akan menimbulkan kepercayaan publik kepada pemerintah, sehingga apa pun yang kemudian disampaikan oleh pemerintah akan diikuti oleh masyarakat. Sebaliknya informasi yang disembunyikan, apalagi ketika informasi tentang Covid-19 dikhawatirkan akan mengganggu prestasi politik pejabat publik disembunyikan,  dipastikan akan memberikan dampak buruk dalam penanganan pandemi ini. 

Pemberitaan tentang mantan wali Kota Padang yang berpraktik sebagai dokter yang hasil test swabnya positif mengakibatkan tim pelacakan penelusuran harus mencari ratusan pasien yang pernah berobat dengannya. Berita media tentang kegiatan itu “membangunkan” pengetahuan dan kesadaran baru kepada masyarakat di Padang dan sebagian Sumatra Barat tentang apa, mengapa, dan bagaimana Covid-19 itu.

Secara tidak disadari model “pendedahan” kasus positif dengan pengungkapan mata rantai penularan yang seringkali lokal oleh media, telah menjadi sebuah strategi komunikasi literasi kesehatan yang sangat efektif, didiskusikan setiap hari di kedai kopi, dan berbagai tempat lainnya di seluruh pelosok Sumatra Barat. Berita rantai penularan yang “dibombardir” oleh media seringkali beriringan dengan pesan tidak langsung tentang protokol Covid-19 kepada publik, sehingga masyarakat menjadi tercerahkan. Murah dan mudah, dan ini adalah suatu lompatan besar strategi edukasi untuk kesehatan publik.

Dokter Andini juga mengirim “pasukan laboratorium” Universitas Andalas ke berbagai kabupaten/kota Sumatra Barat untuk mengambil spesimen dari masyarakat yang ikut test untuk diuji di laboratorium kampus. Kemampuan laboratorium Dokter Andini untuk ukuran Indonesia dianggap luar biasa-mampu melayani cukup banyak spesimen per hari, dan bahkan pernah mencatat rekor 2.600 spesimen per hari.

Kreativitas dr Andini tidak hanya berhenti dengan test swab, pelacakan, dan karantina. Ia juga memperkenalkan pengambilan spesimen dengan metode pool test yang ditujukan untuk kawasan yang akan diajukan relaksasi PSPB, yang penularannya diyakini masih sedikit. Mungkin karena ia rajin mebaca buku-buku kesehatan klasik, ia mengadopsi metode itu yang digunakan di Amerika Serikat pada awal tahun 40-an untuk pengujian penyakit sipilis, gonore, dan juga infertilitas.

Andini juga memperkenalkan metode tes yang unik, sederhana, murah , dan mungkin tidak pernah terpikirkan, bahkan di negara maju sekalipun. Ia memanfaatkan situasi dominan kasus negatif di sejumlah kabupaten/kota dengan menggabungkan lima sampel menjadi satu sampel dengan sekali tes. Kalau tes itu tidak menunjukkan sinyal positif, itu dianggap selesai.

Seandainya tes lima sampel itu negatif, baru dicari lagi secara teliti dari setiap spesimen dari yang telah digabung itu. Kreasi seperti ini telah menyebabkan biaya tes swab turun sampai 70 persen, dan sampai hari ini belum ada berita tentang penyalahgunaan kelebihan alokasi anggaran yang disediakan oleh Pemda Sumbar yang ditempat lain biasanya ditilap oleh berbagai aktor secara “berjamaah”.

Dokter Andini mengakui pool test bukan metode riset, dan karenanya tidak perlu sampel, karena yang dihitung bukan prevalensi dan proporsi. Metode ini ditujukan  bukan untuk menghitung pasien di daerah yang banyak kasus positifnya, tetapi untuk  daerah yang pada observasi awalnya dominan negatif. Test ini dilakukan pada tahapan “kasus impor”, dan mungkin juga  pada tahap transmisi awal.

Seolah ia tak percaya dengan pemeringkatan zona merah kuning hija yang dilakukan oleh Gugus Covid-19 nasional. Ia menambahkan perpaduan pool test dengan penambahan komponen survei, statitistik, dan pendekatan epidemologi untuk dapat dijadikan sebagai basis relaksasi PSPB suatu daerah. Tesis dokter Andini yang dipegang teguh oleh Gubernur Irwan Prayitno adalah perang melawan Covid-19 yang sesungguhnya adalah di jalanan, di pasar, di cafe shop, di tempat kerumunan, bukan di bangsal rumah sakit dengan taruhan nyawa para dokter spesialis, perawat, dan pekerja kesehatan lainnya.

Walaupun Irwan Prayitno begelar doktor psikologi, naluri ekonominya sebagai orang Minang tidak pernah lepas. Ia memang tidak pandai berhitung secara ekonomi pembangunan, tetapi ia sangat pandai memilih, berkawan, dan bertanya kepada orang-orang pandai, yang sebagiannya berada di Universitas Andalas. Seperti berbagai kebijakan pembangunan sebelumnya, dalam konteks Covid-19 ia menantang akademisi Universitas Andalas untuk berperang namun tetap hidup dengan pandemi yang tengah menggerogoti kematian manusia di seluruh muka bumi. Ia minta dibuatkan format, yang satu di antaranya telah dipenuhi oleh Dokter Andini.

Keputusan Irwan Prayitno untuk menggratiskan test swab kepada rakyat Sumatra Barat tidak berhenti di situ saja. Ia menggratiskan test swab kepada para turis yang masuk ke Sumatra Barat di Bandara Minangkabau dan di sembilan titik pintu masuk darat yang menghubungkan provinsi itu dengan Sumatera Utara, Riau, dan Bengkulu. Kreativitas itu bukan tidak beralasan, karena Sumatra Barat dalam beberapa tahun terakhir dikunjungi oleh sekitar delapan juta wisatawan, didominasi oleh wisatawan nusantara, dan wisatawan asing sekitar 60.000 setiap tahun.

Irwan Prayitno tahu benar apa arti rupiah dari delapan juta lebih pengunjung per tahun untuk ekonomi Sumatra Barat, terutama ekonomi rakyatnya. Ia berhitung penerimaan yang jatuh ke sektor transportasi, perhotelan, industri kerajinan rakyat, warung nasi padang, seni dan pertunjukan rakyat, dan cukup banyak efek ganda lain yang tidak perlu diuraikan satu per satu. Hitung saja kika rata-rata per pengunjung membelanjakan satu juta untuk setiap kunjungan. Itu artinya ada yang yang berseliweran di Sumatra Barat sekitar Rp8 trilun per tahun yang berpeluang didapatkan oleh banyak aktor ekonomi dan masyarakat di sana.

Yang pasti dia tahu, sektor ini akan memberikan pekerjaan kepada banyak orang, dari yang sangat berpendidikan sampai yang tidak berpendidikan, dari pemilik hotel sampai dengan penggiling bumbu, penjual nasi dan sate padang, dan seterusnya. Yang disasar di tengah gempuran pandemi adalah pekerjaan, dan pendapatan rakyatnya. Bukankah itu tugas mulia pemegang mandat publik dari rakyat?

Tanpa harus berhitung dengan sangat cermat tentang kontribusi sektor ini terhadap PDRB ia tahu benar potensi makanan enak khas Padang, seperti daging rendang, yang telah mendapatkan gelar dari TV global paling luas dan berpengaruh CNN “The most Tastiest Food in The World” dengan tag CNNGo. Ia juga ingin mempertahankan prestasi Festival Dubai 2016 yang menempatkan Sumatra Barat sebagai World Best Halal Culinary Destination dan World Halal Tourism Award.

Seperti kemampuan komputer untuk “multitasking” Pemda Sumatra Barat tidak terpenjara dengan Covid-19, dan memulai mengerjakan proyek hidup dalam Covid-19 dengan program inovatif seperti ini. Ia berdiskusi banyak dengan berbagai pihak, terutama dengan para akademisi. Hasilnya pilihan penguatan  dengan “satu peluru” test gratis swab kepada para turis, telah menghiasi percakapan Facebook mancanegara, dan uraian itu dibicarakan secara berantai oleh para blogger industri pariwisata internasional.

Pasalnya hampir tidak ada destinasi wisata mana pun di dunia yang memberikan test gratis kepada para turis. Lihat saja Bandara Changi Singapore mematok ongkos test 200 $ US- 2,8 juta rupiah, Bandara Swarabhumi Bangkok, 3.000 baht-1,37 juta rupiah, Bandara Attaturk di Istambul, 110 lira turki-235 ribu rupiah, Bandara Sepang Kuala Lumpur, 250 RM-750 ribu rupiah, Bandara Stechwart Wina, Austria 190 Euro-3,134 juta rupiah, dan Bandara Josef Strauss, Munich,188 Euro-3,09 juta rupiah.

Di tengah-tengah pungutan ongkos test yang seperti itu di seluruh dunia, dan cukup banyak berita kelesuan pariwisata, ketika ada berita test swab gratis untuk wisatawan seperti itu, tentu saja menjadi viral untuk media-media wisata international. Sungguh sebuah iklan yang sangat mahal nilainya jika dibayar dengan cara biasa. Iklan yang tidak diprint, bukan cetak, bukan mouth to mouth tapi dari android ke android secara global.

Orang tidak hanya tertarik membaca itu, tetapi mereka juga ingin tahu banyak tentang where abouts Sumatra Barat, yang keingintahuan itu telah ditunggu dengan baik oleh berbagai laman resmi dan tak resmi wisata Sumatra Barat. Provinsi itu kini tak perlu mengeluarkan jutaan dolar untuk biaya iklan di media-media besar global sekelas CNN dan Aljazera, cukup dengan berikan tes gratis swab untuk turis saja.[] (Bersambung)

Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

Editor : Ihan Nurdin