Lhob Mate Corona (26): Pandemi 100 dan Respons Kreatif Sumbar dan Sulawesi Selatan (III)

Ahmad Humam Hamid. [Ist]

Oleh Ahmad Humam Hamid*

Tantangan Sulawesi Selatan yang juga merupakan  salah satu kawasan ledakan pandemi di luar Jawa, mempunyai dinamika tersendiri. Gubernur Nurdin Abdullah, seorang akademisi andal dari Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, adalah salah mantan bupati yang cukup berprestasi di Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan. Mungkin karena  dia telah cukup banyak makan asam garam selama menjadi bupati dua periode, dalam penanganan Covid-19 ini, dia  tahu benar bagaimana menggunakan asam garam yang pas dan serasi.

Tindakannya yang paling mengejutkan adalah ketika ia memberhentikan pejabat Wali Kota Makassar, seorang teman baiknya yang cukup lama, yang hanya baru menjabat  44 hari, Prof Yusran Jusuf. Kesalahannya hanya satu, namun cukup fatal, kegagalan menangani dengan benar pandemi Covid-19 di kota Makasar. Profesor Yusran adalah teman Nurdin Abdullah yang cukup dekat sebagai sesama pengajar di Fakultas Kehutanan Universitas Hasanudin yang sebelumnya dipercayai Nurdin sebagai Ketua Bappeda Sulawesi Selatan.

Mungkin itu adalah sebuah keputusan yang  sangat berat untuk diambil oleh pemimpin “biasa”, namun Nurdin menganggap mengurus Covid-19 adalah mengurus perang dan menyangkut dengan “nyawa” masyarakat Kota Makassar dan Sulawesi Selatan. Berat, pahit memang, tetapi dia adalah Panglima yang terpaksa menggantikan salah satu komandan lapangannya di daerah strategis yang tidak kompeten. Prof Yusran cukup bagus sebagai Ketua Bappeda Sulawesi Selatan, tetapi dia kurang sigap untuk berperang dengan pandemi yang melanda kotanya. Judgment Nurdin yang  secara tak langsung diakuinya salah pada awalnya, namun dengan jantan segera diakuinya, dan Yusran diganti.

Sebagai Gubernur, Nurdin adalah pembelajar yang cepat, apalagi dengan pengalamannya sebagai bupati. Baginya bertanya dan berdiskusi dengan ahli adalah darah dagingnya karena ia adalah seorang akademisi piawai lulusan Doktor dari Universitas Kyushu Jepang. Dia mempunyai Epidemolog FKM Unhas, Prof Dr Ridwan Amirudin yang independen, yang sering menjadi rujukan Nurdin dalam menangani Covid-19 di Sulsel.

Tidak seperti Iwan Prayitno di Sumatera Barat yang mempunyai rujukan dan kepercayaan, serta penyiapan sumber daya yang besar kepada dokter Andani, konteks Sulawesi Selatan tentu saja berbeda dengan Sumatera Barat. Namun satu hal yang mesti dicatat  bahwa “instink” kepala daerah sekaliber Iwan Prayitno dan Nurdin Abdullah dalam menghadapi pandemi terparah dalam sejarah umat manusia ini mestilah mendapat masukan yang tak pernah henti dari para ahli. Rujukan, arahan, bimbingan yang berbasis ilmu pengetahuan hanya didapatkan bila mereka setiap saat selalu di dampingi ilmuwan yang kompeten, jujur, dan independen sekelas Andani dan Ridwan Amirudin.

Ini adalah kebiasaan yang sangat lazim bagi pemimpin yang hebat untuk menghadapi kejadian besar wabah yang sangat mematikan ini. Cobalah lihat di mesin pencari siapa saja pemimpin hebat dunia yang berhasil menangani Covid-19 yang tidak didampingi oleh ilmuwan piawai. Presiden Trump saja didampingi oleh Dr Anthony Fauci, ilmuwan terkenal yang menjadi andalan AS dan dunia dalam membendung wabah SARS dan MERS yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Hanya saja, kali ini Trump tidak mau mendengar apapun yang dianjurkan oleh Fauci, dan hanya menggunakan Fauci di etalase sebagai “hiasan dinding” untuk  segala kebijakan yang diambilnya. Inilah yang membuat AS menjadi juara global untuk korban Covid-19 .

Sadar sebagai salah satu propinsi  yang terpapar cukup tinggi dengan kasus Covid-19 di luar Jawa, Nurdin memutuskan untuk mengelar test massif Covid-19 di di daerahnya. Aksinya di buktikan dengan massalisasi rapid test melalui Puskesmas ke seluruh kabupaten-kota di Sulawesi Selatan, yang disambut cukup baik oleh seluruh  Wali Kota dan Bupati.Tidak berkenti di Puskesmas, Pemda Sulawesi Selatan juga mengirim mobil-mobil   pelayanan rapid test  yang  menyasar tempat keramaian, terutama pasar.

Sekadar berkaca diri, bayangkan saja ketika Ombudsman Aceh, Doktor Taqwadin melakukan sidak ke salah satu Puskesmas di kota Banda Aceh beberapa waktu yang lalu. Petugas Puskesmas menyatakan tidak ada, belum ada, dan nyaris tak tahu menahu tentang test Covid-19 itu. Sementara itu di Ibu Kota Sulawesi Selatan, Makasar, semua Puskesmas di setiap kecamatan telah dan sedang melakukan kegiatan itu.

Test Covid-19 seperti yang dilakukan di seluruh Puskesmas Kota Makasar sebenarnya bukanlah sebuah prestasi yang hebat, karena untuk  ukuran sebuah kota, ketersedian para ahli, dan jumlah biaya yang dibutuhkan bukanlah sesuatu yang menjadi masalah. Yang perlu menjadi catatan adalah Puskesmas di kabupaten yang kurang maju seperti di Luwu Timur atau  yang terjauh dari daratan, kabupaten Kepulauan Selayar  yang lokasinya  159 kilometer dari kota Makasar yang juga mempunyai pelayanan test di Puskesmas kecamatan.

Pelayanan test Covid-19 terjadi di Sulawesi Selatan relatif merata dan umumnya  setara dengan yang ada di kabupaten Soppeng, Bantaeng, Bone, atau kota Makasar sekalipun.  Untuk Aceh, sampai  saat ini sulit membayangkan ada Puskesmas yang bisa melayani  seperti itu akan ada di kecamatan  Sibigo, Simeulu, Pameu di Aceh Tengah,  Leuser di Aceh Tenggara, ataupun di Puskesmas Pulau Aceh.

Dengan menggunakan hasil test yang masif, Pemda Sulawesi Selatan juga membuat penelusuran yang intensif untuk menemukan mata rantai  penyebaran Covid-19 di daerahnya. Nurdin memberi target yang banyak, bahkan mendekati dua ratus ribu contact tracing untuk upaya pengendalian pandemi itu. Tindakan itu kemudian terbukti sangat ampuh untuk strategi pengendalian, karena sebagian specimen contact tracing terbukti positif Covid-19. Masif test dan intensifnya penelusuran Covid-19 di Sulawesi Selatan membuat Presiden Jokowi mempunyai penilaian tersendiri sehingga mengirim Panglima TNI ke sana untuk mengapresiasi kinerja pemda di tengah amukan wabah itu. Diam-diam Panglima juga rupanya sedang mengamati model Sulawesi Selatan untuk memperkuat referensi strategi baru Presiden tentang “intervensi berbasis lokal” yang salah satu pilarnya memungkinkan untuk karantina administratif seukuran RT ataupun kampung sekalipun.

Lain lubuk lain ikan, lain Padang lain pula Ujung Pandang. Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan boleh berbeda dalam apa pun, termasuk dalam respons kreatif yang dipelopori oleh kepala daerahnya. Kondisi objektif daerah, potensi yang dimiliki, yang kemudian dihadapkan dengan jenis tantangan yang dihadapi, akan melahirkan strategi cermat yang walaupun mempunyai asas umum yang sama, namun mempunyai kandungan lokal yang berbeda.

Dua kata kunci penanganan Covid-19, testing dan tracing, telah ditangani dengan cara yang berbeda oleh Sumbar dan Sulsel dengan kreativitas kepemimpinan yang berbeda. Gaya Iwan Prayitno yang “menyerah” kepada ilmuwan dan Universitas Andalas serta sentuhan ekonominya tentang pariwisata telah membuat Sumatera Barat mempunyai catatan tersendiri dalam penanganan pandemi ini. Gaya Nurdin Abdullah yang tegas, dan mampu meyakinkan DPRD dan para bupati-wali kota untuk secara bersinergi kuat, telah membuat propinsi itu kini memberikan inspirasi yang lebih kuat lagi kepada pimpinan nasional untuk formulasi strategi baru Covid-19 “intervensi berbasis lokal”. 

Yang paling menarik di kedua provinsi itu, proses testing dan tracing telah menjadi ajang yang paling efektif uituk literasi kesehatan publik. Publik tidak lagi mendengar “dongeng”, dan “instruksi” tentang pandemi, karena setiap hari akan dihadapkan dengan ”contoh nyata” dengan apa yang sedang terjadi dengan pandemi itu. Di sebalik semua keragaman pendekatan yang mereka berdua lakukan, ada kata kunci lain yang sangat penting, keduanya didampingi oleh ilmuwan secara terus menerus.[]

Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala

Editor : Ihan Nurdin