Menghidupkan Kembali Ruh Pendidikan

Merina Devira. [Ist]

Oleh Merina Devira*

Dari salah satu pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Makarim, terdapat pesan penting yang dapat kita maknai kembali di masa pandemi Covid-19 ini. Sebuah pesan tentang dorongan untuk gerakan kerelawanan yang melibatkan seluruh siswa/mahasiswa melalui proyek bakti sosial (service learning). Makna dari pidato ini bukanlah hanya sebagai sebuah seruan sempit yang hanya berlaku untuk para tenaga pendidik, peserta didik (siswa/mahasiwa), ataupun penggerak institusi pendidikan. Tetapi esensinya sangatlah luas yang merupakan sebuah dorongan yang harus kita pahami kembali dan implementasikan demi generasi Aceh masa depan.

Pendidikan anak negeri adalah tanggung jawab semua lapisan masyarakat yang saling terkait dan tidak ada satupun pihak yang dapat dianggap paling bertanggung jawab atas wajah pendidikan di daerah kita saat ini. Dalam konteks yang lebih kecil, hal tersebut dapat kita umpamakan dengan kecerdasan seorang anak yang merupakan cerminan dari sehatnya anak sejak dalam kandungan ibu, tercukupinya kebutuhan nutrisi, nyamannya keluarga, dukungan teman dan lingkungan, serta bijaksananya para penguasa.

Saya setuju dengan pesan Nadiem yang ingin membangkitkan dan mengarahkan kembali dunia pembelajaran Indonesia ke tujuan sejatinya dengan ruh pendidikan itu sendiri, yaitu belajar berbasis pengabdian (service learning). Service learning adalah sebuah model pembelajaran lapangan yang memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk praktik nyata secara pribadi di lingkungan masyarakat dengan bekal kemampuan dan ilmu pengetahuan masing-masing yang telah diperoleh selama pembelajaran di kelas. Model pembelajaran ini juga bertujuan untuk membentuk karakter (soft skill) mereka agar lebih memiliki rasa peduli terhadap kaum yang lemah (tersisihkan) dalam masyarakat serta membangun kemampuan kepemimpinan, berkomunikasi, dan ide berfikir yang kreatif serta kritis.

Jika kita menelaah perjalanan kurikulum pembelajaran Indonesia di tingkat sekolah dasar, menengah, dan pendidikan tinggi, model pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat dengan pendekatan bakti sosial dan project di lapangan ini sangatlah tidak asing. Pendekatan pembelajaran ini telah tergambarkan dengan idealnya pada beberapa kurikulum sebelumnya hingga saat ini, dengan sebutan beberapa nama, seperti pembelajaran berpusat pada siswa/mahasiswa (student centered learning), pembelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan (PAKEM), pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning), pendekatan saintifik serta pendidikan karakter dan kompetensi.

Bahkan pada tahun 2005-2010, sistem pendidikan Aceh sendiri pernah menjadi salah satu dari tujuh provinsi lainnya di Indonesia yang dibekali secara masif oleh program MBE (Managing Basic Education, USAID) dan Pemerintah Pusat tentang pembelajaran aktif dan manajemen sekolah demi meningkatkan kualitas (mutu) sistem pendidikan di Aceh pada masa itu. Namun, setelah hampir sepuluh tahun berakhirnya program pendidikan tersebut, apakah sistem pendidikan kita telah benar-benar bermutu? Serta, sampai kapan kita harus memprioritaskan untuk mengejar mutu dan peringkatnya? Hingga lupa untuk mengimbangi dengan esensi dan relevansi dari tujuan pendidikan itu sendiri bagi masyarakat dan lingkungan daerah kita Aceh.

Sejak diberlakukannya kebijakan belajar dari rumah oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 24 Maret 2020, proses implementasi kebijakan tersebut masihlah sangat beragam di daerah kita. Berdasarkan pendapat dan curahan hati yang mucul di kalangan masyarakat menunjukkan beberapa kondisi. Adanya ketimpangan akses media pembelajaran antara anak-anak dari keluarga ekonomi mampu dan kurang mampu sehingga masih banyaknya mereka yang tidak belajar dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga yang ekonomi mampu.

Masih kurangnya sesi penyampaian materi dengan media daring jika dibandingkan dengan banyaknya tugas yang harus diselesaikan oleh para siswa dan banyak para orang tua yang merasa kewalahan dan tidak mampu dalam memberikan bimbingan materi pelajaran selama belajar di rumah. Serta semakin terpencil suatu daerah, semakin rendah kemungkinan siswa untuk mampu mengakses pembelajaran dengan online.

Dengan wajah pendidikan seperti ini di tengah masa pandemi Covid-19, sudah saatnya belajar berbasis pengabdian untuk dihidupkan kembali dan didukung oleh seluruh lapisan masyarakat dengan peran para tenaga pendidik di sekolah dan kampus sebagai pasukan garis depan. Pendidikan pengabdian tidak cukup hanya menjadi beberapa label yang ideal dalam kurikulum dan jangan sampai praktik pembelajaran berbasis pengabdian ini pun hanya dianggap sebagai sebuah ‘formalitas’ dalam dunia pendidikan.

Para tenaga pendidik dapat bekerja, mengarahkan, serta membimbing para anak didik untuk bersama-sama belajar dengan mengerjakan berbagai macam proyek sederhana sesuai dengan kapasitas ilmu dan kemampuan para anak didik tetapi sangat bermanfaat bagi orang tua, keluarga, dan lingkungan masyarakat mereka sendiri.

Dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan Covid-19, mahasiswa dapat dibimbing oleh para dosen untuk turun ke lapangan membentuk kelompok-kelompok kecil dan membantu para siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran, membantu para guru yang sulit mengimbangi kecakapannya dengan kecepatan kemajuan teknologi, ataupun bentuk kontribusi lainnya yang dapat mereka lakukan di gampongnya masing-masing seperti membentuk balè bacaan bagi anak desa atau inisiatif mereka sendiri lainnya.

Serta penting juga untuk para guru memperhatikan bahwa masih banyaknya masyarakat yang lemah (dengan latar belakang pendidikan dan kondisi ekonomi yang rendah) di daerah kita yang masih belum siap secara ekonomi dan kecakapan untuk menggunakan berbagai aplikasi pembelajaran online, seperti Zoom, Google Classroom, WA group ataupun aplikasi yang lainnya serta untuk memberikan bimbingan materi pelajaran bagi para anak mereka. Tetap para guru yang akan mengambil tempat paling bijak untuk menyesuaikan kegiatan pembelajaran yang aktif dan sekreatif mungkin namun sangat sesuai (aplikatif) dengan kondisi para siswa dan orang tua. Tidak salahnya juga memberikan kesempatan kepada para siswa untuk lebih peduli dengan alam sekitarnya dan mempelajari keterampilan hidup bersama dengan orang tua mereka dengan berbagai kegiatan seperti mencuci, memasak, memelihara hewan ternak, menanam tanaman, dan lainnya. Bukankah di masa pandemi ini, Kemendikbud juga telah meringankan guru dari tuntutan capaian kurikulum?

Kita semua (para orang tua, guru/dosen, penggiat pendidikan, pemerintah, dunia usaha) sudah waktunya untuk mengambil bagian dan memberikan dukungan untuk dunia pendidikan, terutama di masa pandemi ini dan khususnya bagi anak rentan dan miskin akses. Karena seideal apapun visi atau kurikulum pendidikan, tetaplah tidak akan terlaksana tanpa adanya kerjasama semua lapisan masyarakat dan para guru (dosen) yang menjadi tonggak utama dan paling powerful dalam mengatur alur pendidikan kepada peserta didik.

Bahu membahu di masa pandemi ini, akan mengembalikan nilai pendidikan kritis di balik belajar berbasis pengabdian. Serta saling mengingatkan kepada kita semua bahwa pada akhirnya muara dari pendidikan adalah untuk kembali bermanfaat dan berbela rasa bagi berjuta-juta rakyat dan termasuk bagi mahkluk ciptaan Allah yang non manusia.

*)Dosen FKIP, Universitas Samudra (UNSAM), Langsa. Alumnus Master’s Australia Award Scholarship, The University of Adelaide.