Manusia-manusia yang Terbuang di India

Kaum Musahar, mengandalkan tikus sebagai makanan untuk bertahan hidup. [Sumber foto: AFP]

Dunia boleh modern, tapi tidak dengan perilaku manusia. Kesetaraan merupakan hak yang masih harus diperjuangkan oleh kelompok-kelompok minoritas di semua belahan dunia. Bahkan di dalam sebuah negara yang seragam, kelas-kelas sosial tercipta. Mereka yang kalah kemudian harus menjadi warga di tangga paling bawah. Siap sedia dihina, diperlakukan tidak adil, akhirnya melihat diri mereka sebagai sesuatu yang tidak berguna.

Bila menyebut Hindustan, alam pikir kita tentu akan dibawa ke sinema-sinema Bolyywood nan gemerlap, dengan lelaki dan perempuan rupawan, kaya raya, bernyanyi, menari serta hidup glamour. Bahkan sepanjang sinema selalu bicara cinta. Seakan-akan India hanya persoalan asmara Karan dan Anjeli. Gambaran yang berbeda akan tersaji bila kita memindahkan perhatian ke belahan India Selatan di mana industri sinema Tollywood dan Kollywood berjaya dengan film-film kepahlawanan. Para wira yang melawan kezaliman penguasa dan pengusaha.

Tapi, seberapapun dekatnya sinema Tollywood dan Kollywood mencoba memberikan warna terhadap kehidupan di sana, tapi tetap–sejauh pengetahuan penulis– belum menyajikan sesuatu yang lebih dari sekadar ketidakadilan penguasa dan pengusaha yang berkolaborasi dengan penegak hukum yang jahat. Persoalan yang paling serius tentu soal penindasan kelas atas nama varna (kasta).

Selama ini kita mengetahui bahwa struktur sosial rakyat Hindustan tersusun dalam empat tingkatan varna, yaitu Kasta Brahmana, orang yang mengabdikan dirinya dalam urusan bidang spiritual seperti sulinggih, pandita dan rohaniawan. Selain itu disandang oleh para pribumi. Kasta Ksatria, para kepala dan anggota lembaga pemerintahan. Seseorang yang menyandang gelar ini tidak memiliki harta pribadi semua harta milik negara. Kasta Waisya, orang yang telah memiliki pekerjaan dan harta benda sendiri petani, nelayan, pedagang, dan lain-lain. Kasta Sudra, pelayan bagi ketiga kasta di atasnya.

Di bawah Sudra ada dua kelas varna–tapi kerap tidak diakui sebagai varna— lain yaitu Dalit dan Musahar.

Dalit atau Paria dalam sistem kasta di India adalah seorang yang biasanya diharamkan untuk disentuh, (untouchable), adalah orang yang tidak memiliki varna. Varna merujuk kepada keyakinan Hindu bahwa manusia pada umumnya diciptakan dari bagian-bagian tubuh yang berbeda-beda dari dewa Purusha. Kedudukan sosial mereka ditentukan dari bagian-bagian tubuh manakah mereka diciptakan, misalnya dengan siapa mereka dapat menikah dan pekerjaan apa yang dapat mereka lakukan. Kaum Dalit berada di luar sistem varna dan secara historis telah dilarang untuk melakukan pekerjaan apapun kecuali pekerjaan-pekerjaan yang paling rendah.Mereka juga dikenal sebagai kaum tak berkasta. Di antaranya termasuk para penyamak kulit (disebut chamar), petani-petani miskin dan para buruh yang tidak bertanah, pemulung sampah (disebut bhangi atau chura), para pekerja kerajinan di jalan-jalan, seniman-seniman rakyat, pencuci pakaian dhobi, dll.

Orang Dalit, bahkan haram untuk disentuh. Struktur sosial masyarakat India menempatkan mereka secara sangat tidak adil. [Ist]

Bila bicara Dalit, kita tentu tidak bisa mengabaikan pengecualian pada PK Mahanandia, seorang kaya raya yang bermukim di Swedia. Hanya dia baru satu-satunya kisah tentang Dalit, yang segera mendapatkan tempat terhormat di India, setelah dia menjelam menjadi orang penting di luar negeri.

Lain Dalit, lain pula Musahar. Musahar merupakan orang-orang yang dianggap sebagai paling rendah. Bahkan lebih rendah dari Dalit. Kehidupan yang teramat miskin. Dengan jumlah 2,5 juta jiwa, mereka mayoritas bermukim di Bihar, sebuah provinsi di India yang beribukota Patna. Orang-orang Musahar ini, sehari-hari memakan tikus, maka mereka dikenal dengan rat eaters. Pendapatan per hari orang tertindas ini hanya senilai Rp13.000. Jumlah yang sangat sedikit untuk ukuran hidup di kelas paling rendah sekalipun. []

Sumber: Wikipedia, Kumparan, Manawa Dharmasastra, International Dalit Solidarity Network, aceHTrend.