Perginya Penyair Sapardi Sang Empunya “Hujan Bulan Juni” di Bulan Juli

Almarhum Sapardi Djoko Damono (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Hujan Bulan Juni  

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

//

Rasanya hampir tak ada orang yang tak familier dengan Hujan Bulan Juni. Puisi yang ditulis oleh penyair Sapardi Djoko Damono. Larik-lariknya seolah mampu menyulap seseorang seketika menjadi sangat puitis.

Hari ini penggalan-penggalan puisi Sapardi menghiasi banyak beranda media sosial. Sebagai penghargaan terakhir atas kepergian sang empunya puisi yang telah pergi menghadap Sang Khalik pada Minggu pagi (19/7/2020).

Di usianya yang genap 80 tahun, Sapardi akhirnya pergi meninggalkan dunia yang fana ini setelah sebelumnya dirawat di rumah sakit. Para pengagum karya-karyanya merasa kehilangan. Selain Hujan Bulan Juni, penggalan puisi Aku Ingin pun banyak berseliweran di beranda. Tentu saja, termasuk Yang Fana adalah Waktu.

Lahir di Solo, 20 Maret 1940, Sapardi mulai menulis puisi sejak usia 17 tahun. Buku puisi pertamanya duka-Mu Abadi, diterbitkan pada tahun 1969. Buku-buku puisinya yang kemudian terbit ialah Mata Pisau, Akuarium, Perahu Kertas, Sihir Hujan, Hujan Bulan Juni, Arloji, Ayat-ayat Api, Mata Jendela, Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?, Kolam, Namaku Sita, Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita, dan Babad Batu.

Saja-sajaknya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di antaranya Arab, Cina, Jepang, Korea, India, Protugis, Prancis, hingga Belanda. Berbagai penghargaan pun telah diterimanya dari lembaga Akademi Jakarta (2012); Freedom Institute (2003); termasuk penghargaan dari negara lain seperti dari Malaysia, Thailand, dan Australia.

Tak hanya puisi, ia juga menulis sejumlah buku nonfiksi, di antaranya Novel Indonesia Sebelum Perang; Sosiologi Sastra; Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan; Drama Indonesia; Sastra Bandingan; Bilang Begini Maksudnya Begitu; Kebudayaan (Populer) (di Sekitar) Kita, dan Alih Wahana.

Kini, Sapardi telah pergi untuk selama-lamanya. Di bulan Juli yang bergerimis. Ya, sang empunya “Hujan Bulan Juni” itu telah pergi di bulan Juli. Selamat jalan, Penyair.

Berikut beberapa puisi Sapardi yang tercatat dalam buku sepilihan sajak Hujan Bulan Juni:

Pertemuan

perempuan mengirim air matanya
ke tanah-tanah cahaya, ke kutub-kutub bulan
ke landasan cakrawala, kepalanya di atas bantal
lembut bagai bianglala

lelaki tak pernah menoleh
dan di setiap jejaknya: melebat hutan-hutan,
hibuk pelabuhan-pelabuhan; di pelupuknya sepasang matahari
keras dan fana

dan serbuk-serbuk hujan
tiba dari arah mana saja (cadar
bagi rahim yang terbuka, udara yang jenuh)
ketika mereka berjumpa. Di ranjang ini

(1968)