Janatha Garage, Ketika Penindasan Harus Dilawan Oleh Pengusaha Bengkel

Seorang polisi senior, tiba-tiba datang ke Bengkel Janatha; dia mengadu kepada Satyam, pemilik Janatha Garage, yang mendedikasikan tempat usahanya itu sebagai pengabdian tanpa batas untuk orang-orang teraniaya. Sang polisi merasa keberadaannya sebagai penegak hukum tidak berguna sama sekali, padahal rakyat sangat membutuhkan kehadiran mereka untuk menegakkan keadilan sekaligus melindungi rakyat dari intimidasi para gangster.

Polisi senior itu datang ke sana, meminta agar Janatha Garage turun tangan, untuk mencegah semakin meluasnya teror bom yang dilakukan oleh sekelompok preman yang didanai oleh seorang pengusaha pertambangan. Sementara dinas kepolisian menyebutkan bahwa itu aksi terorisme dan sang polisi senior tidak perlu melakukan penyelidikan lebih jauh.

Satyam yang diperankan oleh Mohanlal, di dalam sinema layar lebar Tollywood itu, sejatinya juga “gangster”. Tapi mendedikasikan diri untuk membantu menegakkan keadilan yang tidak bisa diberikan oleh negara.

Ada satu kalimat yang menarik diucapkan oleh Anand, anak muda pemimpin baru Bengkel Janatha yang diperankan oleh aktor muda Telugu, NTR.

“Selama ini kami diam karena menghormati polisi. Dan ketika kau datang ke sini mengadukan ketidakberdayaanmu, maka kami harus bertindak.” Kalimat heroik yang membuat adrenalin bergerak melampaui batas imajinasi.

Sikap Satyam yang lebih mementingkan kepentingan orang banyak ketimbang bisnis, ditentang oleh putranya sendiri yang akhirnya memilih bergabung dengan pengusaha yang bekerja secara korupsi dengan cara berkolusi dengan pemerintah setempat. Sang putera adalah aktor intelektual yang memberikan ide untuk meletupkan sejumlah bom di dalam kota, agar publik panik dan marah. Target akhir adalah terjadinya chaos dan lahirnya tuntutan penggantian menteri setempat. Mereka telah menyiapkan calon menteri lainnya yang akan menjadi pendukung utama bisnis hitam.

***
Film ini berkisah tentang perjuangan Satyam yang di usia tua mulai dianggap lemah oleh pendukungnya sendiri. Sehingga aksi-aksi sosialnya mulai meredup. Keluhan-keluhan warga kerap ditolak oleh anak buahnya dengan dalih Satyam tidak bisa lagi diharapkan bisa membantu mereka.

Satyam terluka dengan kondisi itu tapi tidak berdaya. Dia berharap putranya melanjutkan apa yang telah dia rintis. Tapi sang anak justru menolak dan menganggap ayahnya bertindak di luar kapasitasnya sebagai pemilik bengkel.

Semangat Satyam kembali tumbuh ketika bertemu dengan Anand, mahasiswa jurusan lingkungan hidup yang gerah dengan aksi pertambangan di kawasan terlarang. Dengan semangat kemerdekaan Hindustan, Anand turun ke lokasi tambang memaksa kegiatan pertambangan yang dikelola oleh putera Satyam dan calon mertuanya–pengusaha hitam– dihentikan.

Seperti cerita-cerita khas sinema Telugu, Anand dengan gagah perkasa mampu melibas para pekerja tambang. Seorang diri dia bertarung di lokasi proyek, tanpa harus mengalami luka, bahkan kemeja putihnya pun tidak sempat kotor.

Setelah peristiwa itu, Satyam mengajak Anand berkolaborasi menegakkan keadilan dan menunjuknya sebagai pemimpin baru Janatha Garage. Tanpa menunggu waktu, Anand bersedia bergabung. Semangat Satyam kembali membara. Dia telah menemukan orang yang tepat.

Di ujung cerita putera Satyam bersama genknya membunuh kerabatnya sendiri, yang juga pengikut ayahnya sedari muda. Anand marah besar, demikian juga Satyam. Lelaki tua itu bergeming ketika istrinya merengek agar sang anak dimaafkan. Di mata Satyam, siapapun yang bersalah harus dihukum.

Ketika istri Satyam mengadu pada Anand, lelaki muda itu juga bergeming. “Apa yang kau katakan, tidak akan berpengaruh pada Anand. Dia telah lama kehilangan orang-orang yang ia cintai. Sia-sia saja kau berharap belas kasih padanya,” kata Satyam.

Dengan restu Satyam, Anand kemudian menyerang markas sang putera. Dan, dengan tangannya sendiri, Satyam menghabisi puteranya sendiri dengan sebilah balok besi. Keadilan tidak mengenal darah. Semua yang bersalah harus dihukum. Itulah pesan inti dari film tersebut.

***
Sinema Telugu yang diproduksi di India Selatan–termasuk Janatha Garage, 2016– kerab menggugat ketidakadilan pemerintah yang korup melalui karya sinematografi.

Dengan berbagai ketikdakmungkinan, seperti aktor utama seperti memiliki kekuatan unlimited, merupakan nilai tambah. Sepanjang filmnya, kita terhibur dengan aksi heroik “aneuk muda India” yang seakan tidak mengenal rasa takut, over dosis mencintai keadilan serta romantis kala sudah berurusan dengan asmara.

Sinema Telugu juga menunjukkan fakta lain bahwa sesungguhnya perjuangan menegakkan keadilan merupakan pekerjaaan menapak jalan sepi. Hal ini ditunjukkan oleh kerumunan orang-orang kampung yang tidak memiliki keberanian sedikitpun, padahal mereka dianiaya hanya oleh sekelompok preman.

Orang-orang yang pasrah pada nasib baik dan buruk, tidak tergerak melawan dan hanya mengandalkan seorang hero saja. Apabila hero tersebut sukses menghajar penjahat maka mereka akan bertepuk tangan. Bila sang jagoan kalah, mereka hanya bisa menangis sembari menggeleng-geleng kepala, disertai musik yang dramatis.

Janatha Garage dan sinema-sinema lainnya di sana, menggugat penegakan hukum yang tidak berjalan semestinya. Polisi korup dan jahat, pemerintah yang berkolaborasi dengan pengusaha hitam serta parlemen yang mati rasa dan hanya mementingkan politik citra sembari terus-menerus menciptakan ketergantungan rakyat kepada mereka. Seakan-akan apa yang mereka berikan kepada rakyat merupakan sedekah, alih-alih akan dianggap sebagai kewajiban. []