Lhob Mate Corona (28): Virus,Masker, Masyarakat & Pemerintah (I)

Ahmad Humam Hamid. [Ist]

Ahmad Humam Hamid*

Jena dan Kerala adalah dua tempat yang sangat jauh di muka bumi. Jena sebuah kota kecil di Jerman dan Kerala adalah sebuah negara bagian di India tempat kopi robusta Aceh dan kanji rumbi Aceh berasal. Dua tempat itu walaupun berjarak sekitar 7,305 kilometer, dan mempunyai perbedaan iklim, agama mayoritas, dan berbagai keragaman sosial ekonomi lainnya, namun mempunyai kesamaan yang relatif sama dalam penanganan pandemi Covid-19.

Kedua lokasi geografis itu mempunyai kesamaan dalam perang melawan Covid-19. Kota Jena dan negara bagian Kerala termasuk dalam kelompok gugus awal yang mewajibkan warganya memakai masker. Dan hasilnya? Kedua lokasi ini menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan dengan tetangganya dalam statistik penularan pandemi dan jumlah kematian warga.

Ketangkasan Jerman dalam menangani Covid-19 yang membuatnya ‘berbeda” dari banyak negara maju lainnya di Eropa, sesungguhnya berawal dari keberhasian Jena. Kota kecil ini terletak di negara bagian Thuringia berpenduduk sekitar 110.000 jiwa. Kota ini dikenal sebagai kota perguruan tinggi, kota industri, dan salah satu pusat produksi kacamata terhebat di dunia. Jena menerapkan kewajiban pemakaian masker kepada warganya pada 6 April 2020, 21 hari lebih awal dari kota-kota lain di Jerman.

Ketentuan hukum Jerman yang memberikan kewenangan pemberantasan penyakit menular kepada otoritas negara bagian lokal telah memungkin Jena untuk membuat “qanun” atau “inwalkot” mereka sendiri. Kewajiban pakai masker di arena publik dan industri yang disertai dengan kampanye intensif telah membuahkan hasil yang signifikan.

Hasil kajian ilmuwan Jerman dan Denmark (Kosfeld dkk,2020) terhadap Jena dan kota-kota kecil yang serupa di Jerman menunjukkan perbedaan nyata tentang kecepatan serangan pendemi secara umum, dan kecepatan transmisi terhadap kelompok lanjut usia. Setelah dua puluh hari efektif kewajiban masker di Jena jumlah kasus naik dari 143 menjadi 158 kasus.

Sebaliknya kota-kota yang serupa yang kewajiban masker dilakukan 20 hari setelah Jena, dan diukur 20 hari kemudian, mempunyai penambahan dari 143 menjadi 205 kasus, yang sekaligus juga menunjukkan pengurangan 23 persen kasus di Jena. Ketika penularan itu dibagi didistribusikan, kelompok orang tua-lebih dari umur 60 tahun mengalami penurunan drastis sebesar 50 persen.

Ketika dihitung lebih cermat dengan mempercepat 10 hari pengukuran lebih awal, dikombinasikan dengan rumus transmisi pandemi dan sejumlah variabel lainnya disimpulkan kecepatan transmisi harian di Jena berkurang dengan angka 40 persen dibandingkan dengan berbagai kota lain yang terlambat penerapan masker 20 hari dari kota Jena.

Kasus kota Jena di Jerman- dan bahkan di seluruh Jerman- menunjukkan ketika pemerintah membuat kebijakan yang benar, masyarakat Jena yang setingkat kemajuannya dengan Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis, mampu membuat kotanya berhasil mengatasi pandemi. Hal itu pula yang diikuti oleh 16 negara bagian lainya, yang membuat Jerman menyandang negara terbaik di Eropa dalam penangan Covid-19.

Amerika Serikat, Inggris, dan Brazil adalah negara-negara yang pemakaian maskernya ada, namun sangat sedikit, ketika Covid-19 “menyerbu” mereka. Para pemimpin negara itu tidak hanya “sinis” dengan masker, tetapi juga cenderung menganggap remeh dan menyampaikan secara terbuka secara olok-olok kepada publik tentang pandemi itu. Apa yang terjadi setelah itu? Gelombang demi gelombang pandemi terus menerus bertransmisi, dan membuat negara-negara itu pada akhir-akhir ini baru mulai mewajibkan pemakaian masker kepada publik.

Kerala adalah sebuah negara bagian-propinsi di India yang agak unik. Walaupun secara ekonomi kawasan ini tidak mempunyai angka yang sangat wah, dan tidak sangat industrial, dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, Kerala adalah salah satu yang terbaik di dunia untuk pendidikan dan kesehatan kawasan-kawasan yang kelasnya serupa.

Tidak berhenti di kesehatan umum saja, Kerala juga terkenal karena mempunyai sistem kesehatan publik yang sederhana, murah, namun sangat hygine, dan mempunyai reputasi sebagai salah satu tempat pelayanan kesehatan pedesaan terbaik di dunia untuk negara berkembang. Kawasan ini yang bagian utaranya terkenal dengan panggian Malabar mempunyai masyarakat muslim “terpelajar” , dan mempunyai posisi sosial ekonomi lebih baik dibandingkan dengan masyarakat islam lainnya di India.

Kerala bersama dengan negara bagian Tamil Nadu adalah dua negara bagian di India yang paling cepat mewajibkan warganya memakai masker di tempat umum. Kerala memulai aksi pemakaian masker kepada warganya semenjak tanggal 30 April dan dinyatakan berlaku satu tahun. Memang, logika pemakaian masker, juga diikuti dengan paket lengkap penanganan ideal Covid-19, seperti penelusuran, testing, cuci tangan, dan jarak sosial.

Penerapan kewajiban masker di Kerala juga diikuti dengan razia, dan denda 200 Rupe-sekitar 40 ribu rupiah. Akan tetapi pada saat yang sama, individu terdenda juga mendapatkan masker gratis dari pemerintah. Pada putaran awal, Kerala menjadi negara bagian terdepan dalam meratakan kurva penularan, dan bahkan menyita perhatian negara dan ahli kesehatan publik internasional.

Bagi negara bagian sekelas Kerala, mengurus Covid-19 tidaklah sangat gampang. Negara bagian itu dengan kunjungan turis asing mendekati 11 juta pertahun mempunyai tantangan tersendiri. Di samping itu Kerala juga mempunyai warganya yang bekerja di luar negeri dengan jumlah sekitar 2 juta orang, yang sebagian besar pulang dalam masa pandemi, karena berhentinya aktivitas dan aturan pulang orang asing di negara tempat mereka bekerja.

Kerala hari ini menjadi salah satu negara bagian India yang relatif rendah dan kini dengan menghadapi pekerja yang pulang dari luar negari yang berpeluang membawa serta virus memperbaharui “qanun” nya, terutama tentang denda kepada pelanggar. Kali ini tidak tangung-tanggung, terutama bagi yang tidak kapok dengan denda pertama.

Pelanggar yang tidak jera dan kedapatan melanggar lagi akan didenda yang mencapai 5.000 rupe-9. Setara delapan juta rupiah. Tidak berhenti disitu, pemerintah negara bagian juga mengancam denda dalam jumlah yang sama terhadap orang yang membuang masker di tempat umum, atau bukan di tempat yang telah ditentukan.

Pemakaian masker juga menarik untuk diamati antara negara-negara yang sangat awal dan belakangan dan dampak yang ditimbulkan. Jepang, Korea Selatan, Vietnam dan Taiwan adalah tiga negara terdepan di dunia yang pemakaian maskernya relatif banyak dan terlihat di zona publik, bahkan sebelum Covid-19. Hasilnya? Ketiga negara itu sering disebut sebagai contoh terbaik dan juara dalam penanganan Covid-10 global.

Apa sesungguhnya yang telah terjadi terhadap berbagai tempat dan negara yang telah diserbu oleh Covid-19 dengan tingkat keparahan yang berbeda, seolah tak peduli dengan tingkat kekayaan, tingkat kemajuan, dan bahkan ideologi sekalipun. Apa yang membuat Jena dan bahkan Jerman, bersama dengan negara Asia maju -Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan mampu mengalahkan Amerika Serikat dalam pengendalian Corona?

Kenapa negara bagan Kerala di India dan Vietnam, yang sesungguhnya masih berada dalam kelompok kawasan “sedang membangun” namun dapat mengatasi pandemi, paling kurang sampai dengan keadaan hari ini? Apa yang membuat mereka seperti itu dibandingkan dengan sebagian besar negara Eropa yang maju namun gagal menangani pandemi?

Sampai di sini, dengan mengambil “titik masuk” penggunaan masker saja, kita dapat melihat apa beda virus, manusia, dan pemerintah. Ketika dikaitkan dengan masker, pasti terikut di dalamnya sejumlah item lain yang terkait dengan paket pengendalian Corona. Di sinilah kita bisa melihat ada tempat dan negara di mana virus mengalahkah, hampir mengalahkan, seri, atau dikalahkan oleh manusia. (bersambung)

*)Penulis adalah Guru Besar Unsyiah.