Relasi Kanda-Dinda dalam konstruksi Tokoh Muda di Aceh

danil Akbar Taqwadin. [Ist]

Oleh Danil Akbar Taqwadin*

Saya seorang pengagum Sayuti Muhammad Nur. Status facebook-nya sering menggambarkan realita politik sesungguhnya, terutama tentang relasi antara kanda dan dinda. Dalam hubungan politik, istilah ‘kanda’ atau ‘dinda’ sering digunakan untuk menunjukkan suatu kedekatan. Tentu karena bingkainya politik, maka tak lepas dari unsur kepentingan, baik yang bersifat short-term ataupun long-term. Salah satu bentuk ‘kepentingan’ dalam ranah politik adalah mengkonstruksikan atau membangun ‘image’ ketokohan seseorang, contohnya tokoh muda.

Ketokohan seseorang seringkali dipandang dari aspek seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan terhadap sebuah kondisi atau entitas tertentu. Aspek ‘pengaruh’ ini lahir dari pengakuan orang lain terhadap keberadaannya. Semakin besar pengaruhnya, semakin besar derajat ketokohannya. Bagi para politisi tulen, ‘pengaruh’ terkadang lebih penting daripada anggaran, termasuk dalam urusan “per-kanda-dinda-an.”

Sederhananya begini, relasi kanda-dinda menunjukkan suatu hubungan senior-junior atau antar hierarki sosial dan politik yang berbeda. Seorang ‘kanda’ dianggap memiliki pengalaman, kemampuan, kecakapan, dan jejaring yang lebih luas, berbanding ‘dinda’. Dengan kata lain, kanda harus memiliki ‘modalitas’ yang dapat diperhitungkan, baik pada konteks politik, ekonomi, sosial, maupun intelektual. Semakin besar modalitas yang dimiliki, semakin besar penghormatan dinda kepada kanda. Seperti seorang temanku yang sekali waktu berdiri sigap dengan sikap hormat dan berteriak ketika bertemu sang kanda, “Mohon perintah, Kanda!” Kalau tidak, penghormatan dan sebutannya tidak lebih dari panggilan ‘bang’ atau ‘pak’, tanpa penekanan yang luar biasa. Atau ketika bertemu sang dinda hanya berujar “Ooo..yayaya.”

Bagi yang terbiasa terlibat dalam kontestasi suatu organisasi, baik organisasi masyarakat atau politik, terutama yang bersifat Kepemudaan. Relasi kanda-dinda adalah salah satu variabel yang paling menentukan untuk menang. Para dinda akan bersilaturahmi ke kanda. Dari sekadar memberitahukan, memohon izin, ataupun meminta dukungan. Lazimnya, para kanda pun seringkali gatal untuk masuk ke dalam dinamika kontestasi. Bagi saya ini wajar! Terkadang kanda ingin menanamkan ‘jasa’-nya sehingga sewaktu-waktu dapat meminta balas budi sang dinda, atau sekadar membantu karena dinda dianggap capable untuk menjaga kepentingan organisasi sebagai regenerasi, ataupun karena Kanda sudah rindu dinamika kontestasi politik – meskipun tidak secara fisik, atau dengan alasan-alasan lainnya. Percayalah, bila diseriusi, kanda selalu punya cara untuk ‘mendongkrak’ ketokohan dinda ke level tokoh muda. Tapi jangan salah ya! Menjadi tokoh muda, tidak mesti menjadi Ketua! Tanpa stempel sekretaris atau persetujuan dari bendahara, ketua akan jadi “bahan pembicaraan” bagi kanda dan dinda di luar sana.

***
Mengartikan istilah ‘muda’ tidaklah sulit. Karena muda kerap identik dengan usia. Katakanlah rentang usianya 18 sampai 40 tahun. Tapi mengkonstruksikan ketokohan, “tidak semudah itu, Ferguso!” Apalagi bagi golongan muda. Perlu dedikasi, etos silaturahmi dan kesabaran tinggi. Dinda dituntut untuk mampu bergerak lebih luwes, lebih cepat, lebih tangkas. Sehingga kanda menganggap dinda mampu memenuhi ekspektasi kanda. Tugas kanda terkadang hanya sekadar memperkenalkan kepada jejaringnya. Dinda dituntut untuk terus menjaga silaturahmi dengan jejaring ini, karena dinda akan dianggap sebagai representasi kanda. Itu baru pada tataran para kanda saja.

Di tataran selevel atau pada hierarki yang lebih rendah, dinda juga dituntut luwes, bersahabat, cerdas, ringan tangan dan lihai memanfaatkan momentum. Karena sesama dinda punya jejaring yang berbeda. Jejaring ini yang akan menjadi modalitas dinda untuk naik level selanjutnya. Tanpa disangka, jejaring ini seringkali berkelindan dengan para kanda. Sehingga jangan heran, para kanda kerap mendapatkan informasi yang tak terduga perihal dinda. Informasi yang terkadang menjadi sandungan ketika dinda ingin mengkonstruksikan atau menjaga ketokohannya.

Ironisnya, relasi kanda-dinda kadang tak secantik artis Korea. Terkadang para kanda melihat relasi ini tak ubahnya seperti hubungan kebergantungan (dependency). Kanda menganggap bahwa hanya dinda yang menggantungkan dirinya kepada kanda. Sedangkan, kanda seringkali tidak merasa bahwa ada hubungan saling ketergantungan yang terbangun dalam relasi antara kanda-dinda. “Dinda perle ngon Kanda, Kanda perle ngon Dinda.” Pasalnya, dinda juga memiliki jejaringnya sendiri. Yang terkadang berkelindan pula dengan jejaring Kanda. Maka ketika para dinda “meuhaba-haba”, image kanda juga dipertaruhkan di dalamnya.

Karena itu dalam konstruksi tokoh muda, sepatutnya relasi kanda-dinda berlandaskan prinsip saling ketergantungan ini. Kalau kanda membantu dinda, maka sepatutnya dinda membantu kanda. Karena dinda kana soe bela, dan kanda soe bela kana!

*) Penulis merupakan dosen Ilmu Politik, FISIP UIN Ar-Raniry. Email: danylabay@gmail.com.