Kelapa Bakar Lampuja, Konon Berkhasiat, Ternyata Begini Ceritanya

Kelapa bakar Gampong Lampuja, Aceh Besar @aceHTrend/Mirza Safwandy

Oleh Ahmad Mirza Safwandy*

Bila Anda sedang melintasi jalan Blang Bintang Lama, jangan lupa singgah di Gampong Lampuja. Gampong yang berada di Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar ini ternyata memiliki tempat yang “berkhasiat” untuk disinggahi. Mungkin di antara pembaca pernah mendengar kelapa bakar rempah alias u teutoet, atau barangkali pernah mencobanya? Konon, minuman ini menjadi minuman raja-raja Aceh tempo dulu.

Selain menjadi Keuchik Gampong Lampuja, Mukhtaruddin juga piawai mengelola usaha milik gampong. Dia ikut mendirikan badan usaha milik gampong (BUMG) yang di dalamnya ada usaha kelapa bakar. Saban hari, buka mulai pukul 14.00 WIB, kecuali Jumat, warung ini tutup. Saya lebih sering pergi pada malam hari.

Tempatnya sederhana, dan penjualnya pun bersahabat. “Kiban, Cek? Peu lage biasa? (gimana Cek, apa seperti biasa),” tanya Keuchik Mukhtaruddin kepada saya.  Sebutan “Cek” menjadi gaya khasnya dalam menyapa pelanggan, tidak terkecuali dengan saya sekalipun telah mengenal nama.

Tidak hanya tersedia kelapa bakar, usaha BUMG Lampuja juga menyediakan gorengan Kak Pit, yang tak kalah rasanya. Enak untuk menemani Anda meneguk kelapa bakar. Saya suka bakwannya. Selain itu juga tersedia nasi guri malam Kak Maneh. Kelapa bakar ini dijual per buah dengan harga Rp15 ribu.

Saya sudah berulang kali ke sana, tapi baru kali ini sempat mengulasnya. Warung ini pertama kali dibuka pada tahun 2017. Kepada saya, Mukhtaruddin berkisah awal mula ia meramu rempah, bumbu andalan kelapa bakar yang semakin terkenal itu. Malah tidak jarang pembelinya tamu-tamu dari luar negeri yang sedang berpelesir ke Aceh.

“Kadang na jamè dari Malaya, Singapore, na cit troh dari Brunei dan Korea (terkadang tamu yang datang dari Malaysia, Singapore, Brunei Darussalam dan Korea),” katanya.

Ide mengolah kelapa bakar tidak muncul seketika. “Ada cerita tentang itu,” tambahnya. Sekira tiga tahun lalu–seorang kakek tua yang bersepeda mirip gazelle mampir ke tempatnya. Kakek tersebut terlihat letih. Mukhtaruddin menduga orang tua itu hanya sekadar untuk peuteupat rueng (istirahat sejenak) sebelum melanjutkan perjalanan.

Hidangan kelapa bakar rempah @aceHTrend/Mirza Safwandy

Bagi Mukhtaruddin siapa pun yang datang akan dilayaninya. Terlebih lagi dengan orang tua. “Neujep u muda Abu (minum kelapa muda Abu),” tanya Mukhtaruddin menawarkan kelapa muda kepada kakek yang belum pernah dilihatnya itu. Beliau memberi isyarat mengangguk–tanda menerima tawaran minum kelapa muda. Setelah mengupasnya, Mukhtaruddin menaruh kelapa muda itu tepat di atas meja.

Neu jep Abu (silakan minum Abu),” katanya lagi mempersilakan. Kakek tersebut pun minum sambil mengangkat kelapa muda dengan kedua tangan. Ia memilih minum tanpa sedotan.

Mukhtaruddin mencoba memperhatikan sang kakek yang ia panggil dengan Abu itu, kali ini ia mulai penasaran. Siapa gerangan kakek ini, gumamnya dalam hati. Dia mulai menatap dari atas sampai ke ujung kaki orang tua itu. Mukkhtaruddin sedikit takjub, meski terlihat uzur tetapi kakek itu kuat untuk mengayuh sepeda. Masih jelas kerutan di lengan hingga ke pangkal tangan, namun wajah kakek masih terlihat segar, kenangnya.

Padum umue Abu (berapa umur Abu)?” tanya Mukhtaruddin mencoba memecah kebisuan.

Umue lon 82 thon, Neuk (Umur saya delapan puluh dua tahun Nak),” jawab Abu.

Jeut lon pegah saboh hai, so tepeu jeut keu usaha gata (bolehkah saya menyampaikan sesuatu, barangkali Anda dapat menjualnya),” ujarnya.

“Insya Allah, Abu,” jawab Mukhtaruddin.

Abu tersebut lantas meminta Mukhtaruddin mencoba memulai usaha kelapa bakar (u teùtot), tetapi Abu meminta dia memperhatikan beberapa syarat, agar kelapa bakar itu sempurna untuk dinikmati. “Nyoe nyankeuh dijep lee ureung-ureung awai, masa-masa prang, wate jameun kerajaan (Inilah minuman endatu, pada masa perang di masa kerajaan Aceh),” cerita Abu dengan suara lirih.

Abu memberikan persyaratan lanjutan, kelapa yang hendak dibakar, harus dipetik setelah waktu zuhur atau sekitar pukul dua siang. Kalau pohon kelapa besar yang dipetik, pohon itu berumur antara tiga puluh sampai dengan empat puluh tahun. Setelah dibakar, air kelapa yang panas dikeluarkan dicampur dengan rempah, seperti, jahe, cengkeh, kumis kucing, naleung lakoe alias ginseng Aceh, serai, dan beberapa bumbu rahasia lainnya. Setelah itu, air kelapa dimasukkan kembali ke dalam batok kelapa untuk disajikan, dan siap untuk diminum. “Ci gata cuba (silahkan Anda coba),” kata Abu.

Gorengan Kak Pit yang kriuk-kriuk @aceHTrend/Mirza Safwandy

Sejak hari itu, Mukhtaruddin terbayang-bayang dengan pesan kakek yang kini tidak pernah ditemuinya lagi. Ia pun berusaha mencobanya. Hingga hari ini hasil usaha itu mulai terbilang sukses. Bahkan, ù teùtot cabang Lampuja akan dibuka di kawasan Batoh, Banda Aceh.

Dikutip dari sehatq.com, kelapa atau Cocos nucifera mengandung begitu banyak nutrisi dan mineral yang baik bagi tubuh. Kandungan kalium dalam air dan buah kelapa pun memiliki manfaat, di antaranya dapat mengontrol tekanan darah, dan melancarkan peredaran darah. Selain itu, dapat juga mengurangi risiko penyakit kardiovaskular seperti stroke dan penyakit jantung. 

Nah, penjelasan itu tentang kelapa segar. Bagaimana dengan kelapa bakar? Meski kelapa bakar belum ada penelitian ilmiah yang dapat membuktikan manfaatnya bagi kesehatan, setidaknya ada sugesti yang dirasakan “berkhasiat” bagi tubuh.[]

Penulis adalah Founder Media aceHTrend

Editor : Ihan Nurdin