Panglima Kodok dan Bentaranya

Oleh Dahrum SPd MPd*

Kisah tentang pemimpin yang sukses menjalankan misinya di suatu negeri. Hidup makmur dan sejahtera keluarga besarnya. Kebutuhan hidup terpenuhi dengan baik, mau apa saja tak sulit didapatkan. Kata orang-orang, tinggal gesek, maka uang pun keluar dan lebih dari cukup untuk ukuran kehidupan saat ini.

Panglima kodok adalah sebutan untuk pemimpin wilayah yang kerjanya meu-olah. Selalu merasa paling hebat, tak peduli dengan masukan rakyat. Dia merasa kesuksesan yang diraih karena kemampuannya saja. Ketika para bentara (kerbau, ayam, dan tikus) duduk berjejer di depannya, spontan saja panglima mengumbar pengetahuan dengan lancar. Prok…prok.

Sebelum terpilih

Suatu hari pendukung calon panglima melakukan rapat. Membicarakan tentang perebutan tahta secara mantap. Berbagai trik dan cara dikeluarkan agar bisa menang. Keputusan akhirnya disepakati bahwa untuk mendapatkan kekuasaan paling tidak memiliki tiga faktor (ketokohan, dana, dan tim kerja).

Bentara ayam angkat bicara, mengusulkan bahwa tanpa dana sangat sulit meraih kuasa. Menurutnya, “ketokohan perlu dana dan tim kerja juga harus ada dana. Jadi di antara tiga poin penting tadi, paling penting agar terpilih adalah dana.” Pernyataannya diamini peserta rapat yang lain.

Pertama, ketokohan sangat menentukan terpilihnya seseorang jadi panglima. Tokoh atau orang yang menjadi panutan, idola yang banyak pengikutnya bisa muncul secara alami. Tapi tak jarang juga dibentuk dengan sedikit polesan agar kelihatan gagah penuh wibawa, dibuat seolah cerdas atau sosok yang berani dan adil. 

Saat proses suksesi tiba, banyak bermunculan tokok-tokoh yang sengaja dihadirkan, dipoles agar semakin indah dipandang mata. Melakukan agenda kunjungan ke tempat-tempat ibadah agar terkesan prosyariah. Kunjungan biasanya diikuti dengan pemberian sejumlah bingkisan. Bungong jaroe dari calon panglima.

Pemberian tersebut menjadi modus bila dilakukan saat hendak berkuasa. Lihatlah, tiba-tiba orang begitu dekat menjelang suksesi, berubah sangat baik dan empati, secara tiba-tiba jadi teman dekat atau famili. Sangat peduli, menanyakan tentang kabar sekeluarga, di ujung cerita menyodorkan kartu nama untuk dipilih sebagai panglima.

Selain pemberian bantuan, ketokohan juga dibangun dengan iklan media atau papan baliho reklame namanya. Polesan yang tak kalah dahsyat dari scincare, produk kecantikan untuk perawatan kulit. Peran media sangat penting. Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, sedangkan media informasi mampu menembus ribuan, bahkan jutaan kepala. Pengaruhnya luar biasa besar.

Kedua, faktor dana. Tentunya saja tahap berikut dari perebutan kursi panglima adalah modal dana, sangat menentukan dalam meraih kemenangan. Faktor dana ini sesuai dengan pernyataan bentara ayam yang mensyaratkan agar bisa menang harus banyak uang.

Dana bisa didapatkan dari bentara tikus yang sering ngumpetin uang di dalam sarang. Bentara tikus mengetahui kapan dana dikeluarkan dan kapan harus ditarik kembali imbalannya. Bentara tikus menganggap praktik politik sebagai investasi dalam meraih laba.

Bentara tikus tidak banyak bicara, jarang terekspos media. Tapi uniknya, mereka dekat sekali dengan panglima, mungkin satu frekuensi berada di lubang yang sama. Sama-sama sebagai pengumpul pundi yang disimpan dalam sarangnya.

Bentara tikus berperan layaknya pengusaha kaya, keberadaannya sangat diperhitungkan walau seringkali tindakannya mengerat baju kekuasaan panglima kodok, hingga meninggalkan lubang robekan yang membuat malu panglima.

Anehnya, panglima tak begitu terganggu dengan apa yang terjadi padanya. Bentara tikus memang istimewa, targetnya tidak muluk-muluk ketika panglima kodok berkuasa. Mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya agar bisa sebagai modal pada pemilihan panglima di periode berikutnya.

Sebenarnya yang berkuasa bentara tikus. Pemodal besar yang sangat diperhitungkan keberadaannya. Permintaannya hampir semua dipenuhi oleh panglima, sebab di samping karib saat perebutan kekuasaan juga pemberi pundi yang setia. Meja panglima terus disuguhkan fee proyek yang menjadi komitmennya. Bentara tikus harus dijaga keberadaannya.

Ketiga, faktor tim kerja. Pembentukan tim kerja untuk agenda pemilihan panglima harus dibentuk dan dipupuk, agar tetap solid dalam bekerja, minimal sampai hari pemilihan. Pertemuan demi pertemuan dilakukan di berbagai tempat dan kesempatan, membahas tentang hebatnya calon panglima bila berkuasa.

Tim kerja yang dibentuk tak boleh terlalu sedikit, tidak bisa memengaruhi banyak orang. Tim sukses juga perlu dana untuk kelancaran tugas mereka. Bisa minta pada ketua tim yang biasanya memiliki akses langsung ke calon panglima. Dana digunakan untuk kebutuhan operasional kerja dan serangan fajar di hari H, hari penentuan terpilihnya panglima.

Setelah terpilih

Setelah berhasil merebut kursi panglima, diadakan pesta syukuran. Saat pesta berlangsung, panglima kodok berbaur dengan pendukungnya seraya berkata, “Kita akan bersama-sama menikmati kekuasaan ini dan seterusnya.” Tampak dari sudut kerumunan, bentara tikus tertawa geli mendengar kata demi kata sambil menikmati hidangan kenduri di depannya.

Hari berganti minggu, berbulan, dan tahun. Keadaan masih normal, panglima masih dikunjungi banyak pendukung. Sekadar bersilaturrahmi dan ada juga yang mengadukan nasib mereka, termasuk nasib orang yang diajak memilih panglima. Sang panglima mendengar dengan khusyuk aduan yang seringnya disampaikan oleh bentara ayam, terkenal jago bicara.

Penyampaian bentara ayam langsung ditindaklanjuti oleh panglima. Memerintah tukang kerani untuk menghubungi pihak terkait, sekretaris wilayah, agar diproses segera. Kondisi ini membuat bentara ayam kegirangan, dia bercerita ke orang-orang dengan bangga tentang keberhasilannya mengadu pada panglima.

Berhasil dengan permintaan pertama. Bentara ayam kembali menghadap panglima, mengulang lagi permintaan berikutnya. Kali ini lebih banyak yang disampaikan, mulai dari kebutuhan rumah duafa untuk saudara dan tetangganya, hingga minta posisi jabatan strategis/basah di pemerintahan .

Seperti biasa, kedatangan bentara ayam disambut hangat panglima kodok dan beberapa orang yang sejak awal ada di sana. Tapi kali ini permintaan yang dipenuhi hanya dua saja, mengenai posisi jabatan dan rumah duafa. Sementara permintaan yang lain ditunda dalam waktu yang belum ditentukan, sabar katanya.

Bentara ayam terus datang, menagih hasrat yang telah diucap. Namun, jawaban yang diperoleh tidak memuaskan. Bentara ayam pulang dengan wajah masam. Beliau curhat ke bentara kerbau dan berusaha mengajak bertemu panglima, meminta ditunaikan janji yang diucap saat pesta.

Bentara kerbau modelnya memang tak banyak bicara dan suka mengalah, merasa berat memenuhi permintaan rekannya. Bentara kerbau hanya tahu bekerja, soal ada diperhatikan atau tidak bukan masalah baginya. Terpenting ada makanan dan bisa tidur pulas, itu yang utama.

Bentara ayam pasrah, harapan mendapat kue istana yang lebih besar sirna, tak sebanding dengan pengorbanannya. Pelan-pelan bentara ayam dan kerbau menepi dari hiruk-pikuk istana. Selanjutnya, menghabiskan waktu dengan pekerjaan harian yang sunyi dari tawa canda.

Sementara bentara tikus merasa kegirangan dengan tingkah temannya. Memang kondisi yang diharap, berkurangnya saingan. Tentunya saingan saat pembagian proyek kue dan utak-atik posisi penting di istana. Bentara tikus berhasil meminjam tongkat panglima, seraya berkata “begini caranya mengatur penguasa”.[]

*Penikmat kopi, berdomisili di Lhokseumawe

Editor : Ihan Nurdin