Lhob Mate Corona (31): Pandemi dan Kelahiran Kapitalisme Moderen (II)

Ahmad Humam Hamid. [Ist]

Oleh Ahmad Humam Hamid*

Kematian akibat black-death perkotaan Eropa juga mempunyai dampak demografi berkelanjutan berabad-abad kemudian. Kajian yang dilakukan oleh Jedwab dkk (2019; dan 2020) memberikan gambaran pemulihan populasi perkotaan kepada jumlah populasi sebelum terjadi pandemi. Data dari 165 kota di Eropa yang merupakan 60 persen dari total penduduk perkotaan benua itu menunjukkan antara tahun 1300-1400, setiap kematian 10 persen penduduk kota pada masa itu menyumbang 8,7 persen penurunan jumlah warganya. Baru setelah 100 sampai dengan 200 tahun setelah akhir abad ke 14 kematian dalam jumlah yang sama berdampak nol terhadap jumlah penduduk perkotaan. Intinya, baru pada abad ke-16 sebagian besar kota-kota Eropa baru dapat mengembalikan jumlah penduduknya kembali seperti era sebelum pandemi.

Populasi Eropa sebelum pandemi sebenarnya telah tumbuh dengan cukup tinggi. Adalah kestabilan politik, kemajuan teknologi, dan pertumbuhan pertanian yang telah memungkin bertambahnya jumlah penduduk. Sekalipun ada perbedaan jumlah dalam perhitungan demografi Eropa pada pertengahan abad ke 14, banyak ahli memperkirakan, jumlah penduduk Eropa pada masa itu berkisar antara 80-100 juta.

Konsekuensi dari jumlah populasi yang besar itu membuat upah buruh menjadi rendah. Kedaan sosial ekonomi pedesaan yang parah, kadang-kadang juga disertai dengan bencana gagal panen yang membawa kematian yang banyak. Upah rendah dan kemiskinan semakin memperkuat posisi pemilik tanah yang pada umumnya adalah bangsawan lokal yang menjadi kaki tangan raja di ibu kota pemerintahan. Kehidupan pedesaan pada masa itu adalah lebih merupakan dari gabungan ketimpangan, kemiskinan, ketidak adilan, dan penindasan.

Periode dan suasana ketimpangan ini dalam literatur sejarah ekonomi Eropa ditabalkan dengan istilah kapitalisme feodal yang selanjutnya dalam sejarah ekonomi lebih dikenal dengan istilah kapitalisme agraria. Sebelum lahirnya kapitalis, terlebih dulu ada masyarakat pra-kapitalis, yakni sebuah masyarakat swasembada. yang melakukan kegiatan ekonomi hanya untuk konsumsi keluarga, kerabat dan masyarakat, tidak ditujukan untuk pasar. Pada masyarakat pra kapitalis dengan demikian tidak dikenal istilah keuntungan atau laba yang didapat melalui sebuah proses pertukaran.

Dalam evolusinya, masyarakat memasuki fase kapitalis agragia ketika mode produksi di pedesaan Eropa, dalam hal ini tanah berada di tangan sekelompok kecil orang yang mengunakan buruh dalam proses produksi pertanian. Hasil yang didapat kemudian dijual ke pasar, dan pendapatan itu sebagiannya digunakan untuk membayar upah pekerja.

Yang terjadi adalah sebuah hubungan sekelompok kecil orang-orang yang mempunyai mode produksi tanah dan menggunakannya dengan “membeli” tenaga pada mayoritas penduduk pedesaan yang lebih banyak berstatus sebagai buruh tani. Cara lain yang digunakan untuk mendapatkan keuntungan adalah dengan menyewakan tanah kepada orang yang tingkat sewanya sangat tergantung kepada jumlah tenaga kerja lokal yang tersedia. Semakin banyak tenaga kerja lokal semakin murah sewanya, demikian juga sebaliknya.

Kapitalisme agraria yang dicirikan ole “pasar tanah”, “pasar buruh”, dan “pasar hasil ” tidak berjalan sendiri. Seperti kapitalisme modern yang dalam banyak hal seringkali berasosiasi dengan demokrasi dan pasar bebas, kapitalisme agraria juga mempunyai logika tersendiri. Karena pemilik tanah adalah keluarga feodal lokal yang berhubungan dengan kekuasan, kapitalisme agraria pada masa itu juga sangat sering berdampingan dengan penindasan dan penghisapan kehidupan massa pedesaan.

Cara paling mudah untuk membayangkan model penindasan pada masa kapitalisme agragria di Eropa adalah dengan mengambil Datuk Maringgih, pemeran aktor antagonis dalam novel Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampa) ke dalam setting Eropa abad pertengahan, dengan menambahkan kuasa politik dan kesewenang-wenangan yang lebih besar.

Bayangkan saja bagimana ribuan Datuk Maringgih yang tersebar di sebagian besar Eropa pada masa itu hidup, dan bayangkan saja jutaan keluarga Siti Nurbaya yang dalam kehidupan kesehariannya lebih dicirikan dengan nestapa dan kemiskinan. Akan tetapi semua keadaan yang telah berlangsung selama berabad-abad, kemudian menjadi lain ketika pandemi black-death datang dan membunuh puluhan juta manusia.

Kejadian pandemi yang parah telah mengatur kembali landskap pemukiman dan tata ruang kegiatan ekonomi manusia. Hukum evolusi sosial terus bergulir harus menjawab sebuah pertanyaan penting. Bagaimana masyarakat, baik dalam bentuk komunitas, negara, kawasan, ataupun benua menjalani kehidupan barunya setelah mengalami pengurangan jumlah manusia yang cukup besar, terutama dalam hubungannya dengan sumber daya yang dimiliki- tanah, manusia, ternak dan dan lingkungan yang ada.

Banyak kawasan pemukiman dan lahan yang kurang subur yang ada sebelum black-death hilang dari peta setelah pandemi itu terjadi. Beberapa penulis ( Gottfried,1983: Pounds,1974) mencatat fenomena hilangnya desa dan diabaikannya lahan pertanian di sebagian Eropa pada masa itu. Antara tahún 1350- 1500, Inggris kehilangan 1500 desa. Di Belanda dan Perancis terjadi femonena kosong dan terlantarnya desa-desa kecil dan lahan pertanian sempit. Di Italia peduduk meninggalkan desa-desa terpencil dan mengabaikan lahan yang berdekatan. Di sejumlah negara bagian Jerman, karena banyaknya kematian, terjadi konsolidasi desa-desa kecil yang membuat antara sepertiga sampai dua pertiga desa kehilangan namanya.

Pemulihan kota dan desa di Eropa pasca pandemi, terutama dalam hubungannya dengan jumlah penduduk seringkali dikaitkan dengan keadaan populasi sebelum terjadinya pandemi, mempunyai keragaman tersendiri. Namun variabel penting yang menentukan perkembangan wilayah pedesaan adalah kondisi agroklimat wilayah, yang menjadi penarik atau penolak untuk datang, tumbuh, dan berkembangnya jumlah manusia di kawasan tertentu.

Kawasan subur dengan topografi yang baik cenderung menjadi daya tarik pemukim baru atau buruh migran untuk berdatangan. Intinya walaupun terjadi kematian tinggi pada saat pandemi, kawasan subur cenderung lebih cepat mendapatkan jumlah pendatang baru, terutama migran dari kawasan kurang subur atau terpencil. Namun secara keseluruhan apabila dibandingkan dengan kawasan perkotaan Eropa, kembalinya jumlah populasi pedesaan ke tingkat pra pandemi butuh waktu lebih dari 200 tahun, atau tepatnya mulai abad ke 17. Sementara itu, hal yang sama terjadi lebih cepat di perkotaan , tepatnya di penghujung abad ke-15.

Berbeda dengan kawasan pedesaan, di daerah perkotaan, letak geografis kota, seringkali dikaitkan dengan fenomena pemulihan penduduk. Perkembangan perdagangan-lokasi dekat pantai, dan konektivitas infrastruktur jalan menjadi penentu penting dalam pemulihan kota-kota. Penguatan pemulihan pedesaan dan perkotaan dimulai dari titik terlemah proses produksi, sedikitnya ketersedian buruh akibat kematian paling banyak. Kota dan desa mengalami tantangan dan penyesuaian yang relatif sama, yakni kenaikan upah buruh.

Kelangkaan buruh dan tingginya upah di kawasan pedesaan memaksa pemilik tanah mengubah pemanfaatan lahan pertanian dari yang biasanya menanam biji-bijian untuk makanan -gandum, kepada pemeliharaan ternak, terutama biri-biri untuk industri textil wool .Kegiatan ini yang distilahkan dengan pastoral agriculture-peternakan sebenarnya sudah cukup lama dikerjakan di desa-desa Eropa, namun tumbuh dengan sangat pesat pasca pandemi black death.

Baca juga: Lhob Mate Corona (30): Pandemi dan Kelahiran Kapitalisme Modern (I)

Alasan lainnya yang membuat pergeseran dari pertanian biji-bijian adalah harga gandum yang murah dibandingkan dengan sebelum terjadinya pandemi. Dengan berkurangnya konsumen sekitar 60 persen dari jumlah sebelumnya, ditambah dengan rendahnya ketersedian buruh dan upah tinggi adalah sangat menjadi tidak ekonomis seandainya kegiatan pertanian gandum dilanjutkan. Pemilik tanah, terutama yang menguasai lahan yang lebih luas, pada awalnya sedikit, kemudian menjadi bertambah banyak mulai memfokuskan kegiatan pertanian di kawasan pedesaan dengan kegiatan pertanian yang lebih intensif.

Betapun intensifnya pertanian pastoral, corak kegiatan, dan kebutuhan manusia sangat berbeda dibandingkan dengan pertanian biji-bijian. Jika pertanian gandum hanya dijalankan menuruti musim dan berjalan sekali setahun, pertanian pastoral tidak tergantung dengan musim dan terus berjalan sepanjang tahun.

Kegiatan pertanian pastoral juga tidak mensyaratkan “ kekuatan” fisik seperti kegiatan membajak pada pertanian gandum. Yang paling menguntungkan sebenarnya, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk pertanian pastoral persatuan luas tanah, hanya seperlima dari kebutuhan tenaga kerja untuk pertanian biji-bijian

Kekurangan buruh tani pedesaan-terutama buruh laki-laki, dan corak kegiatan pertanian pastoral sepanjang tahun mengilhami pemilik tanah untuk mempekerjakan wanita. Walaupun wanita Eropa telah bekerja di lahan pertanian jauh sebelum pandemi berlangsung, pekerjaan itu lebih bersifat kegiatan subsistensi ekonomi keluarga dengan cara mendampingi suami. Selebihnya kegiatan keseharian wanita pada masa itu adalah kegiatan domestik.

Keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi terjadi secara masif, baik di Eropa daratan maupun di pulau Inggris Raya. Secara pendekatan ekonomi, kegiatan perempuan dalam pertanian pastoralis dianggap sebagai keguatan ekonomi formal dan menjadi layak masuk ke dalam wilayah pasar tenaga kerja. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya, dan ini adalah momentum penting yang dicatat, sebagai perubahan status perempuan dalam perjalanan sejarah peradaban manusia.

Pekerjaan perempuan pada pertanian pastoralis adalah sebuah pekerjaan yang mensyaratkan kontrak untuk sebuah periode tertentu yang mensyaratkan pekerja untuk tinggal berdekatan dengan lapangan kegiatan sehari-hari. Pekerja perempuan yang pada umumnya adalah para gadis, di samping diberikan upah, juga disedikan tempat tinggal, sehingga mereka meninggalkan rumah orang tuanya.

Implikasi jangka panjang dari “kemerdekaan” perempuan tidak hanya berhenti sebatas pekerjaan di pertanian pastoralist. Kawin dan melahirkan anak adalah pilihan yang tidak memungkinkan perempuan untuk bekerja. Penundaan perkawinan dan sekaligus penambahan umur kawin wanita, tidak lagi hanya menjadi kasus setelah pandemi, tetapi telah menjadi kenyataan sosiologis yang kemudian pemicu perubahan sosial besar-besaran awalnya di Eropa, kemudian menjalar ke seluruh dunia.

*)Penulis adalah Guru Besar Unsyiah.

Catatan Redaksi: Lhob Mate Corona, merupakan tema besar yang ditulis oleh Ahmad Humam Hamid secara serial di rubrik opini media aceHTrend.com. Sebagai ikhtiar berbagi gagasan, serta pengetahuan tentang berbagai dinamika yang memiliki hubungan dengan pandemi Covid-19.