Menyoalkan Pembelajaran Daring

Saifuddin Bantasyam. @ist

Oleh Saifuddin Bantasyam*

Saat tahun ajaran 2019/2020 berakhir pada Juni lalu, muncul harapan semoga proses belajar mengajar (PBM) tidak lagi melalui daring, tetapi dilakukan pembelajaran tatap muka (PTM). Bagi  anak-anak kelas I, atau kelas VII, dan kelas X, PTM ini sangat penting karena mereka dapat mengenal secara langsung lingkungan sekolah dan para gurunya, dan juga teman-teman baru mereka.

Namun, sebulan sebelum tahun ajaran baru 2020/21 dimulai (pada 13 Juli), keluar Keputusan Bersama Kemendikbud, Kemenag, Kemenkes, dan Kemendagri berisi panduan penyelenggaraan pembelajaran tahun akademik baru di masa pandemi Covid-19. Intinya, untuk daerah yang berada di zona kuning, oranye, dan merah, dilarang melakukan PTM, melainkan tetap melanjutkan belajar dari rumah (BDR) atau secara daring (online) sebagaimana sudah berlangsung mulai Maret lalu.

Jika PTM ingin dilaksanakan, maka daerah itu harus terlebih dahulu sudah berstatus zona hijau, ada izin dari pemerintah daerah (dinas pendidikan, kanwil kemenag), satuan pendidikan mampu memenuhi semua daftar periksa dan siap melakukan PTM, dan para orang tua memberi persetujuan untuk PTM tersebut. Adapun urutan tahap dimulainya PTM didasarkan pada pertimbangan kemampuan peserta didik menerapkan protokol kesehatan (prokes).

Namun, untuk sekolah dan madrasah berasrama di zona hijau, PTM tetap dilarang dalam masa transisi selama dua bulan. Setelah itu, baru PTM boleh dilakukan secara bertahap. Tahapan  ini pun berbeda antara sekolah dan  madrasah yang memiliki kurang 100 peserta didik dengan yang memiliki di atas 100 peserta didik.  

Saya sempat mengidentifikasi sejumlah perbincangan publik tentang metode daring ini. Misalnya, ada orang tua yang khawatir metode daring tak efektif.  Ada juga orang tua yang mengalami kendala secara ekonomi, khususnya yang memiliki lebih dari satu anak (harus membeli HP android dan menyediakan kuota internet yang cukup).  Berikutnya adalah keluhan tentang banyaknya tugas yang diberikan oleh guru kepada anak-anak sehingga mereka dan orang tuanya menjadi kewalahan. Ada juga keluhan tentang koneksi internet yang tak stabil. Di beberapa kawasan di Aceh, bahkan ada yang tak dapat mengakses internet sama sekali.

Selesai? Belum. Ada guru yang tak menguasai dengan baik teknologi dan tak mampu mengelola PBM daring dengan cara yang menarik. Juga ada guru yang ternyata merasa bosan dengan PBM secara online. Mereka ini merindukan suasana ruang kelas dengan berbagai ritual yang menyertainya.

Muncul pula kekhawatiran bahwa belajar secara virtual akan menghilangkan filosofi mendidik yang sebenarnya. Pembelajaran secara tradisional adalah PTM, face-to-face interaction, di ruang kelas. Dengan PTM, ruang interaksi bersifat fisik, terlihat dan terasakan langsung. Dengan PTM, lingkungan sekolah, tata krama, menjadi sumber pembelajaran tersendiri.

Tetapi kemudian semua keistimewaan tadi tersedot ke ruang virtual yang pada titik tertentu dapat memengaruhi karakter atau tumbuh kembang anak. Karena itu, di medsos, ada status berbunyi,  “Pak, segera tatap muka, Pak!” Hanya saja, keinginan tersebut bertentangan dengan aturan pemerintah seperti sudah disebut di awal tulisan ini.

Di internet, ada banyak bahasan tentang metode daring termasuk hasil-hasil riset. Ada pakar yang mengatakan bahwa PBM secara daring sangat efektif (Nguyen, 2015). Ada juga yang mengatakan PTM dan daring sama-sama efektif (Charlotte Neuhauser, 2010), dan pakar lainnya (misalnya Charles L. Karr dkk) mengatakan bahwa kedua metode itu tak berpengaruh banyak kepada daya serap peserta didik.

Dengan kata lain, metode daring itu ada plus-minusnya. Sisi plusnya, sebagai misal, metode daring bisa berlangsung di mana saja dan kapan saja, serta ada kemudahan mengakses berbagai literatur pendukung. Belajar secara daring juga menciptakan suasana yang lebih santai dan menyenangkan, serta fleksibel, efisien, singkat, praktis, cepat, tepat, aman, mudah, hemat tenaga, dan hemat waktu. Siswa juga menjadi lebih kreatif, apalagi jika gurunya piawai dalam mengaplikasikan teknik mengajar secara daring.  

Tetapi secara ekonomi, untuk keluarga tertentu, metode daring memang satu hal yang memberatkan. Kekurangan lain, jaringan internet tak tersedia di semua wilayah, atau tersedia tetapi dengan bandwith kecil sehingga menghambat atau membatasi realisasi hak anak atas pendidikan. Belajar secara online juga membatasi feedback yang dapat diberikan oleh anak didik dan  menyebabkan siswa terisolasi secara sosial. Metode tersebut juga mensyaratkan motivasi diri dan “management skills” yang kuat, yang secara asumtif belum tentu dimiliki secara merata oleh anak didik dari latar belakang atau status sosial tertentu.

Hal lain yang menjadi korban dari metode daring itu adalah tak berkembangnya kecakapan komunikasi interpersonal anak didik. Mereka kehilangan kawan-kawannya untuk berinteraksi, juga kehilangan ritual saat memulai kelas bersama dengan guru mereka. Berikutnya, untuk sebagian anak didik, ada masalah dengan penguasaan teknologi. Di samping itu, terkoneksi dengan guru dan kawan-kawan melalui layar HP atau komputer bukanlah sesuatu yang nyaman.

Tetapi dengan perkembangan angka-angka yang terinfeksi  dan yang meninggal secara nasional dan daerah (Provinsi Aceh) karena Covid-19 yang terus meningkat, maka PBM secara daring adalah pilihan terbaik. Memang ada berbagai kekurangan, namun hal tersebut bukan akhir dari segalanya. Beberapa hari lalu, diberitakan bahwa calon vaksin sudah ada dan akan segera dilakukan uji coba kepada sekitar 1.500 relawan di Indonesia. Jika aman, maka vaksin itu akan diproduksi massal.

Hanya saja, untuk Aceh, Dinas Pendidikan Aceh dan Kanwil Kemenag Aceh hendaknya sudah memiliki data tentang seberapa banyak guru dan siswa yang terkendala dalam melaksanakan PJJ atau PBM secara daring. Dengan ada data ini maka kualitas PBM tersebut dapat segera diintervensi. Kendala tersebut bisa beragam bentuknya. Semisal ketiadaan handphone pintar, ketidakcakapan menggunakan teknologi untuk metode daring, atau ketiadaan atau keterbatasan bandwith internet dan buruknya koneksi. 

Demikian juga mengenai kurikulum, saat metode daring digunakan, harus dipastikan tercapai tujuannya, disertai dengan akses terhadap literatur, dan pelaksaan evaluasi yang terukur. Perlu juga dipantau kegairahan (passion) para guru saat mengajar. Guru “yang asal saja” atau yang kurang memiliki rasa tanggung jawab, haruslah dibina bahkan diberi sanksi jika dimungkinkan secara aturan.

Dengan beberapa catatan di atas, mari kita “sambut” metode daring ini. Tanpa kita sadari, belajar secara daring ini bahkan menjadi satu strategi yang sangat bagus dalam menekan penyebaran Covid-19. Belajar daring adalah cara kita melindungi diri sendiri dan juga melindungi orang lain.  Ini sangat sesuai dengan prinsip kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19, yaitu kesehatan dan keselamatan guru, siswa, keluarga dan masyarakat. Kita tak berharap sekolah dan asrama menjadi klaster baru dan besar dalam kaitannya dengan pandemi korona tersebut. Artinya, PTM baru bisa jika kita betul-betul sudah siap.[]

*Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh

Editor : Ihan Nurdin