Periksa 3 Jenis Kesehatan Berikut Setelah Lebaran

ilustrasi

Moment lebaran memang dipenuhi keberkahan, khususnya berkah makanan. Berbagai jenis makanan, seperti opor ayam, rendang, semur daging, ketupat, lemang, lontong, kue nastar mudah saja didapat karena sengaja disajikan di setiap rumah.

Terlebih di saat lebaran Idul Adha, hampir setiap orang bisa mencicipi makanan dari daging sapi atau kambing karena adanya daging korban yang dibagi-bagi ke masyarakat. Namun, sayangnya makanan seperti yang disebutkan di atas bukan tergolong sebagai makanan sehat.

Meskipun kandungan nutrisinya banyak, beberapa kandungan yang berlebihan seperti santan, garam, lemak, dan kolesterol adalah pemicu berbagai penyakit. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak orang yang akan mengeluhkan masalah kesehatan usai merayakan hari lebaran.

Untuk berjaga-jaga, sebaiknya kamu perlu melakukan periksa kesehatan setelah lebaran. Hal ini untuk mencegah kemunculan gejala suatu penyakit. Berikut 3 jenis pemeriksaan kesehatan yang bisa kamu lakukan setelah lebaran.

Pemeriksaan Kadar Gula Darah 

Tes kadar gula darah adalah prosedur pemeriksaan kadar gula (glukosa) di dalam darah. Tes ini bisa dilakukan untuk mendeteksi penyakit diabetes dan bisa mengendalikan serta mencegah komplikasi bagi pengidap diabetes.

Kadar gula di dalam darah diatur oleh hormon insulin. Namun, pada pengidap diabetes, insulin yang dihasilkan oleh tubuh tidak mencukupi atau tidak bekerja semestinya. Alhasil, glukosa menumpuk dalam darah dan menyebabkan kerusakan organ jika tidak segera dilakukan perawatan.

Asupan kalori dan karbohidrat berlebih adalah penyebab kadar glukosa meningkat. Oleh sebab itu, makanan seperti ketupat, kue kering seperti nastar sangat berbahaya bagi pengidap diabetes.

Pemeriksaan Kolesterol 

Sajian khas lebaran juga biasanya banyak mengandung daging sapi dan santan yang mana keduanya adalah sumber kolesterol jahat. Kadar kolesterol yang terlalu tinggi bisa menyebabkan berbagai masalah bagi tubuh, seperti meningkatkan risiko berbagai penyakit kardiovaskular. Pada beberapa kasus, kolesterol tinggi bisa tidak menunjukkan gejala sama sekali. Namun, ada juga yang akan merasakan gejala seperti serangan jantung dan stroke.

Kamu tidak perlu menunggu sampai gejala muncul baru memeriksakan kadar kolesterol dalam tubuh. Sebaiknya pemeriksaan kolesterol ini dilakukan secara berkala dan sedini mungkin.

Menurut American Association, kadar kolesterol darah sebaiknya diperiksa setiap 5 tahun setelah seseorang berusia 20 tahun. Namun, bagi mereka yang kadar kolesterol dalam tubuh melebihi 200 mg/dL, maka cek kolesterol sebaiknya dilakukan setiap 3 bulan sampai kadarnya normal kembali.

Nah, sehabis hari lebaran seperti ini juga menjadi waktu yang tepat untuk memeriksakan kadar kolesterol akibat asupan makanan daging dan bersantan yang kerap sulit kendalikan.

Pemeriksaan Asam Urat

Asam urat adalah senyawa alami yang diproduksi tubuh dan terbentuk dari penguraian zat purin dalam makanan atau minum. Sebenarnya tidak masalah selama kadar asam urat masih berada di batas normal. Namun, mengingat saat lebaran banyak makanan pemicu asam urat, maka sebaiknya pemeriksaan asam urat perlu dilakukan agar tidak menyebabkan gejala yang bisa menganggu.

Pemeriksaan asam urat bisa dilakukan dengan dua cara, yakni tes asam urat dalam darah dan tes asam urat dalam urine. Tes darah dilakukan dengan mengambil sampel darah untuk kemudian diperiksa di laboratorium.

Sampel darah yang diambil nantinya menunjukkan angka yang merupakan kandungan atau kadar asam urat seseorang. Sementara pemeriksaan urine dilakukan dengan mengambil sampel urine. Melalui tes ini, akan diketahui bagaimana fungsi ginjal dalam membuang asam urat.

Jika ginjal tidak dapat membuang asam urat dari darah secara normal, risiko pembentukan kristal atau batu ginjal menjadi lebih besar. Maka dari itu, tes urine dilakukan untuk mengetahui ada atau tidak batu ginjal akibat asam urat tinggi.

Itulah beberapa jenis pemeriksaan yang perlu dilakukan usai perayaan hari lebaran. Ada baiknya dilakukan pemeriksaan sebelum menimbulkan suatu gejala penyakit sebagai salah satu cara pencegahan. Bukankah mencegah lebih baik dari pada mengobati? Selamat berlebaran.[]

Editor : Ihan Nurdin