fbpx
Hari masih terang. Matahari belum pulang. Kira-kira, seperenam hari lagi senja menjelang. Panjang bayangan tubuhku telah lebih dari panjang aslinya. Tanda bahwa waktu sore sedang mengelayuti sudut bumi kampung Matang Seurela dan sekitarnya. Suasana di kebun itu lengang. Hanya sepoian angin pantai yang datang merayab. Meski berjarak hingga satu...
Kakek Hamid memandang kosong ke halaman rumah. Senja yang sedikit agak berkabut berhasil mengurangi semburat keindahan yang dipancarkan oleh sinar matahari sore yang berwarna kuning keemasan. Dia, lelaki yang hidup pada tiga kibar bendera berbeda semakin uzur dimakan usia. Namun, isi kepalanya yang masih mampu menghafal dengan sempurna hikayat...
Oleh: Zikrillah Bayangan emak masih remang dan rebah antara kerikil yang basah oleh embun pagi tadi.Rautnya sudah banyak garisan umur. Rambut beruban jatuh diantara sela-sela penutup kepala. Tangannya tegas menggenggam gagang sapu lidi yang tak rata lagi ujungnya, lalu menyapu dedaunan durian kering yang tumbuh tak jauh dari halaman rumah....
AKU memahat sendiri pintu rumahku ini. Bahannya terbuat dari meranti kaca. Kayu pilihan. Aku menebangnya sendiri di atas bukit nun saat aku masih remaja. Saat itu harga kayu meranti sedang melambung tinggi. Perbatangnya bahkan bisa mencapai harga jutaan. Beruntung sebelum meninggal ayah mewariskanku sepetak tanah di bukit Nun. Dan...
Nafasnya belum berhenti menderu. Bocah dekil itu baru saja berhasil meloloskan diri dari sergapan Satpol PP yang mencoba menangkapnya ketika mengemis di Simpang Lima Kota Para Sultan. Namanya Saleh. Seorang piatu malang yang ayahnya dipasung karena gila menahun. Siang itu, usai berpetak umpet dengan polisi penegak perda,dia mencoba mengambil nafas...
TANAH masih bergucang dengan hebatnya. Pohon kelapa di pesisir pantai nampak bergoyang kesana-kemari seperti ingin mengatuk-antuk kepala satu sama lain. Takbir dan azan mengema di mana-mana. "Intan..intann, lari ke ke rumah Yah Cut, neuk." Seru Baidah dari depan pintu rumah Aceh pada anaknya yang nampak tegang bercongkong di depan...
Munawar* Dua bulan sudah hidup menjanda, ibu si Nonik kembali mendapat ujian berat, pasalnya anak gadis semata wayang pergi meninggalkannya menghadap yang Maha Kuasa. Setelah sebelum itu Tuhan juga telah mengajak pergi suaminya, Badrun pergi ke tempat yang sama. Ibu si Nonik belum begitu ikhlas menerima kenyataan atas dua ujian...
INI adalah malam ketiga aku menjalani ritual penerbang arwah. Di kamar sempit, berlampu remang, sebuah meja meranti kosong membeku di depanku, sementara sepasang mata sangar tak henti-henti memelototiku yang kedinginan. Sejujurnya, disituasi seperti ini aku sangat ingin menghisap sebatang rokok. Ah, andai saja ada, rasanya ingin sekali kuhisap...
Di sebuah desa pinggiran hutan yang udaranya sejuk, berjalanlah seorang ibu bersama anak perempuan kecilnya menuju hutan untuk mencari rotan. Di bahu kirinya tersangkut tas dari goni beras yang talinya terbuat dari kulit pohon. Saat ingin memasuki hutan, sebuah mobil doubelcabin yang berisi penuh orang berkacamata hitam melewati mereka...
Oleh Munawar*) Rusli dulunya pemuda yang tambun, tanpa alasan yang jelas tubuhnya digerogoti darah manis hingga membuat orang-orang tak bisa percaya melihat tubuhnya yang kini menjadi ringkih. Hari-harinya dihabiskan berteman dengan rokok yang tiada putus. Dia pernah menjadi pemuda, tapi setelah angka usianya yang ke tigapuluh lewat, Rusli dijuluki bujang...