Di sebuah desa pinggiran hutan yang udaranya sejuk, berjalanlah seorang ibu bersama anak perempuan kecilnya menuju hutan untuk mencari rotan. Di bahu kirinya tersangkut tas dari goni beras yang talinya terbuat dari kulit pohon. Saat ingin memasuki hutan, sebuah mobil doubelcabin yang berisi penuh orang berkacamata hitam melewati mereka...
Oleh Azharul Husna* Sejak delapan bulan belakangan ini para pelintas jalan mulai sering melihatnya. Bukan apa-apa, mereka ramai sekali. Sejak waktu itu pun bendera berwarna-warni mulai berkibar di mana-mana. Layaknya sebuah komando, mereka mulai ramai menunjukkan diri. Para pedagang yang...
Oleh Fadhil Mubarak Aisma* Seharusnya dari awal tak kupercayai cakap sopir angkot itu. Sudah sering kali aku ditipu. "Bang, sampaikah ke Cibrek?" kutanya lantang. Memang seperti itu kulihat orang-orang lakukan. Janjinya kemudian, akan bertolak hingga Langsa. Nyatanya sampai Lhokseumawe, aku pun dioper ke sekutunya...
Oleh Alfi Syahril Inilah negeri "Negeri Para Bedebah" dipenuhi oleh manusia-manuasia yang serakah. Perjuangkan kebenaran, perjuangkan keadilan. Kezaliman perlu dilawan. Penindasan perlu dihancurkan. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Begitulah Mukidi menutup orasinya di depan jutaan demonstran yang ikut dalam aksi menolak beberapa kebijakan pemerintah. Kebijakan yang dinilai tidak pro rakyat meski...
Oleh Muhajir Juli Hujan deras baru saja berhenti. Matahari sudah bersiap-siap menuju peraduan. Bayu berhembus dingin. Membekukan apa saja di sore nan sejuk itu. Suara burung hantu, monyet dan jangkrik saling beradu cepat. Lambaian daun-daun menyiratkan bahwa sebentar lagi malam akan menjemput. Badrun, lelaki 30 tahun, tampak duduk termenung di atas...
Oleh Teuku Hendra Keumala* "Akbar, kau tau kenapa aku bisa berada di tempatmu ini? tanya Naila suatu hari kepada lelaki di sampingnya. "Tentu saja aku tidak tau jika kau tidak menjelaskannya kepadaku, sepertinya aku tertarik mendengar ceritamu, mengapa kau bisa...
INI adalah malam ketiga aku menjalani ritual penerbang arwah. Di kamar sempit, berlampu remang, sebuah meja meranti kosong membeku di depanku, sementara sepasang mata sangar tak henti-henti memelototiku yang kedinginan. Sejujurnya, disituasi seperti ini aku sangat ingin menghisap sebatang rokok. Ah, andai saja ada, rasanya ingin sekali kuhisap...
Di kampungku, ada sebuah jembatan berkonstruksi kayu. Oleh para pemuda, jembatan itu dilumuri cat warna-warni. Sehingga menyerupai warna pelangi. Karena menyerupai pelangi, warga menamai jembatan itu dengan sebutan Jembatan Pelangi.   Nama itu pun, telah kesehor ke seantero negeri. Bahkan, telah mendunia. Masuk dalam road map Google.   *** Setiap hari, apalagi menjelang rembang...
Oleh Muhajir Juli Seribuan orang berkumpul. Hari ini aku dilantik. Jutaan ucapan selamat datang dari berbagai penjuru. Bliz kamera tiada henti menerpa wajahku yang semringah menanti jabatan baru. Sebuah jabatan yang bisa mengatur seluruh abdi Antapura Achania Malakala. Dua hari sebelum SK itu datang, aku bertanya kepada Bathara Sapta Prabu Achania...
Oleh Suhaimi* Dulu, kita tak akan percaya bahwa seseorang bisa gila gara-gara kalah dalam sebuah kompetisi. Tetapi sekarang hal tersebut seakan-akan menjadi sesuatu yang lumrah dan bisa dialami oleh setiap orang. Hebatnya, pesta demokrasi menjadi jalan tol bagi siapa pun untuk menjadi gila.