fbpx
Oleh: Zikrillah Bayangan emak masih remang dan rebah antara kerikil yang basah oleh embun pagi tadi.Rautnya sudah banyak garisan umur. Rambut beruban jatuh diantara sela-sela penutup kepala. Tangannya tegas menggenggam gagang sapu lidi yang tak rata lagi ujungnya, lalu menyapu dedaunan durian kering yang tumbuh tak jauh dari halaman rumah....
Nafasnya belum berhenti menderu. Bocah dekil itu baru saja berhasil meloloskan diri dari sergapan Satpol PP yang mencoba menangkapnya ketika mengemis di Simpang Lima Kota Para Sultan. Namanya Saleh. Seorang piatu malang yang ayahnya dipasung karena gila menahun. Siang itu, usai berpetak umpet dengan polisi penegak perda,dia mencoba mengambil nafas...
Di kampungku, ada sebuah jembatan berkonstruksi kayu. Oleh para pemuda, jembatan itu dilumuri cat warna-warni. Sehingga menyerupai warna pelangi. Karena menyerupai pelangi, warga menamai jembatan itu dengan sebutan Jembatan Pelangi.   Nama itu pun, telah kesehor ke seantero negeri. Bahkan, telah mendunia. Masuk dalam road map Google.   *** Setiap hari, apalagi menjelang rembang...
Oleh Alfi Syahril Inilah negeri "Negeri Para Bedebah" dipenuhi oleh manusia-manuasia yang serakah. Perjuangkan kebenaran, perjuangkan keadilan. Kezaliman perlu dilawan. Penindasan perlu dihancurkan. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Begitulah Mukidi menutup orasinya di depan jutaan demonstran yang ikut dalam aksi menolak beberapa kebijakan pemerintah. Kebijakan yang dinilai tidak pro rakyat meski...
Oleh Azharul Husna* Sejak delapan bulan belakangan ini para pelintas jalan mulai sering melihatnya. Bukan apa-apa, mereka ramai sekali. Sejak waktu itu pun bendera berwarna-warni mulai berkibar di mana-mana. Layaknya sebuah komando, mereka mulai ramai menunjukkan diri. Para pedagang yang...
TANAH masih bergucang dengan hebatnya. Pohon kelapa di pesisir pantai nampak bergoyang kesana-kemari seperti ingin mengatuk-antuk kepala satu sama lain. Takbir dan azan mengema di mana-mana. "Intan..intann, lari ke ke rumah Yah Cut, neuk." Seru Baidah dari depan pintu rumah Aceh pada anaknya yang nampak tegang bercongkong di depan...
AKU memahat sendiri pintu rumahku ini. Bahannya terbuat dari meranti kaca. Kayu pilihan. Aku menebangnya sendiri di atas bukit nun saat aku masih remaja. Saat itu harga kayu meranti sedang melambung tinggi. Perbatangnya bahkan bisa mencapai harga jutaan. Beruntung sebelum meninggal ayah mewariskanku sepetak tanah di bukit Nun. Dan...
Hujan belum reda. Di depan toko tanpa lampu yang pintunya terkunci Nayla menadahkan tangan menahan tetesan hujan yang meluncur dari kanopi toko. Tangannya terlihat menangkapi setiap tetes air yang jatuh dengan tangan kecilnya seakan sedang menangkap harapan-harapan yang berjatuhan ke tanah yang tak ramah ini begitu saja. Di belakangnya...
Abdullah Hujan baru saja reda. Udara pagi yang dingin dengan pelan menyelinap di balik jaketku. Rasa dingin menyibak dan menembusi tulang. "Untung saja aku sempat mandi tadi, kalau tidak pasti rasa dingin ini akan begitu menyiksa tubuh," batinku sambil melangkah pelan memasuki...
Di universitas tempat saya mengajar, ada seorang dosen senior bergelar profesor doktor. Gelar S2, dan S3, diraihnya dari universitas tersohor di Eropa Timur, dengan predikat nilai summa cum laude. Kendati usia dosen itu tergolong tua, hanya beberapa tahun lagi pensiun. Tetapi, penampilannya masih segar. Gagahnya bukan main. Apabila mengajar di...